Religi


Oleh : Denni H.R. Pinontoan (Penulis, Teolog, Akademisi, Pegiat Mawale Cultural Center)

LELUHUR kita di masa purba terpesona dengan langit yang maha luas, yang jika di malam hari dipenuhi dengan jutaan bintang dan jika siang hari berwarna biru dihiasi awam putih yang indah. Di langit yang biru itu ada sebuah benda bulat yang memancarkan cahaya menyilaukan dan sinarnya mengeluarkan kehangatan. Mereka bertanya-tanya, “Di mana batas langit itu?” “Apa benda di langit yang berbentuk bulat, mengeluarkan cahaya terang dan panas itu?”

Pun jika langit tertutup awam hitam lalu turun hujan, mereka pula bertanya-tanya, “Dari mana air yang jatuh itu?” Lalu, ada anggota kaum mereka yang meninggal, mereka juga bertanya, “Kenapa kita mengalami ini?” “Kemana kita setelah mati?

Apa arti semua itu? Siapa yang menyebabkan semua itu? Mereka menanyakan semua itu, sama dengan ketika generasi mereka sebelumnya yang bertanya-tanya, benda apakah yang bening dan cair yang mengalir di sungai setiap waktu.

Mereka mencari jawab semua itu dengan membayangkan apa yang dekat dengan pengalaman mereka. Maka mereka membayangkan semua itu dengan imajinasi bebas mereka. Bahwa penyebab semua itu adalah sosok yang sangat berkuasa, dia memiliki kekuatan yang tak terbatas. Dia adalah dewa atau dewi. Dialah Yang Maha Berkuasa, yang menciptakan kehidupan, yang memelihara kehidupan dan yang mengambil kehidupan. Sang Maha itu, kadang-kadang dipahami sebagai leluhur tua yang mendahului mereka, atau manusia seperti mereka tapi karena Dia berasal dari dunia lain maka Sang Maha itu memiliki kekuatan yang lebih dari mereka.

Mereka juga kemudian menyadari, bahwa penderitaan, rasa sakit dan kematian adalah karena manusia itu rapuh, tidak abadi. Mereka kemudian memberi makna atas kematian yang dapat dialami setiap saat itu, bahwa setelah seseorang itu mati, dia menuju ke ke dunia lain yang lebih baik dan indah dari tempat tinggal mereka sekarang.

Maka mereka kemudian menciptakan mitos-mitos penciptaan, makhluk-makhluk supranatural, tempat yang keramat, dan hal-hal ajaib lain-lainnya. Semua itu berbentuk cerita. Mitos-mitos itu diceritakan waktu malam jelang tidur kepada anak-anak mereka, waktu pagi ketika berjalan menuju ke ladang, waktu siang di saat beristirahat dari kerja bertani atau berburu, dan di mana saja.

Mitos diceritakan berulang-ulang sehingga menjadi kebenaran. Ada bagian cerita yang berkurang, ada pula yang bertambah. Mitos-mitos baru terus bermunculan. Namun, para penutur cerita di masa purba ini tidak sedang menceritakan laporan sejarah. Mereka menceritakan makna-makna. Sebab mitos bukan terutama tentang sejarah masa lalu, atau juga tentang dunia di sana, melainkan tentang kehidupan di sini dan kini yang harus diberi makna. Mitos ada dunia setelah kematian misalnya, dibuat agar orang-orang yang masih hidup dapat memahami kematian sebagai sebuah siklus, bagian dari perjalanan kehidupan itu sendiri.

Bagi para leluhur kita, setiap mitos adalah suci sebab ia menceritakan tentang Ilahi, moral suci dan kehidupan yang harus bermakna ilahiah. Kesadaran adanya Ilahi itu membuat mereka menyadari, menerima dan meyakini, bahwa kehidupan mereka sekarang adalah refleksi dari kehidupan dewa-dewi atau Ilahi di tempat lain itu. Maka, mereka membuat ikatan dengan Yang Maha itu dengan ritus-ritus. Agar panen berhasil, maka Yang Ilahi harus dilibatkan. Mulai dari memilih benih, membersihkan ladang, menanam, dan di masa pertumbuhan sampai panen semua dihayati sebagai sebuah proses yang sakral karena ada campur tangan Ilahi di dalamnya. Bahkan, semua sendi kehidupan harus diwarnai dengan ritus. Dalam beragam ritus yang telah diciptakan semuanya harus berdampingan dengan mitos. Itulah religi pada bentuk awalnya.

Kepercayaan, keyakinan dan ketergatungan terhadap Yang Ilahi itu kemudian melembaga. Mitos mulai ditulis menjadi kitab-kitab. Yang Ilahi diberi nama. Awalnya ada beragam nama dan sosok untuk Yang Ilahi. Namun pada peradaban yang telah membentuk tingkat-tingkat dan penggolongan status anggota komunitas , maka tafsir dan pembuat mitos perlahan menjadi urusan sekelompok orang. Maka, penamaaan terhadap Yang Ilagi pun menjadi urusan segelintir orang saja. Keyakinan pun perlahan menjadi tunggal seiring mulai munculnya penguasa politik. Akhirnya, nama-nama Yang Ilagi yang beragam itu perlahan-perlahan hanya disebut dengan satu nama saja. Di peradaban tertentu, nama yang dulunya beragam dan setara itu dibuat menjadi bertingkat-tingkat kuasa dan perannya.

Sikap atau cara hidup manusia dan komunitas seperti itu sudah berkembangan puluhan ribu tahun dalam sejarah evolusi peradaban manusia. Bermula dari ketakjuban, kesadaran diri yang rapuh, upaya untuk memberi makna atas kehidupan yang sementara dijalani, religi kemudian berkembangan menjadi sesuatu yang akhirnya berhubungan dengan perang, penaklukan, modal, dan politik.

Di masa leluhur, religi sama dengan mitos dan ritus. Mereka menciptakan mitos dari imajinasi yang bebas. Mitos diciptakan karena terdapat banyak pertanyaan di dalam kehidupan komunitas yang harus dijawab. Ritus diciptakan karena mitos harus diperagakan untuk merefleksikan kehidupan yang ideal dan sakral. Mitos, ritus dan kemudian menjadi religi, pada masa leluhur kita diciptakan karena manusia ingin hidup bermakna sakral bahkan ilahiah.

Tapi, mengapa sekarang ini, puluhan ribu tahun dari masa para leluhur pencipta mitos dan ritus itu, religi (religion) justru semakin kehilangan makna kehidupan? Religi yang di negara kita lebih dikenal dengan nama ‘agama’, kini justru lebih banyak berurusan dengan politik, modal, kekuasaan dan kekerasan. Seorang ibu pedagang makanan disita bahan jualannya atas nama agama. Sekelompok orang ditembak mati atas nama agama. Aturan publik dibuat atas nama agama tertentu sehingga dalam prakteknya yang ditegakkan bukan keteraturan dan ketertiban apalagi keadilan, tapi ajaran agama yang pada dirinya sebenarnya multitafsir.

Jawabannya, karena agama-agama sudah berhenti mewariskan mitos sebagai sebuah cerita suci tentang kehidupan. Bahkan karenaagama-agama tidak lagi mengembangkan kreatifitasnya untuk menciptakan mitos-mitos untuk memberi makna ilahiah atas kehidupan yang sementara dijalani. Mitos-mitos dari masa awal agama-agama ini telah diperingkas atau sebaliknya dibuat menjadi panjang dalam dogma-dogma hasil rekonstruksi elit yang dibuat untuk menjadi ideologi demi kepentingan politis dan ekonomis. Ritus-ritus telah menjadi kewajiban hukum yang tidak lagi dilakukan dalam tindakan yang sakral.

Mengapa itu terjadi? Jawabannya, karena modernitas telah membunuh mitos dengan logos. Modernitas mencap mitos sebagai ketidakbenaran atau kebohongan karena tidak historis. Mitos dituduh tidak ilmiah. Logos lalu merasionalisasi mitos agama-agama yang kemudian menjadi artefak masa lalu. Para pengkhotbah agama-agama di zaman modern tak lagi mampu menangkap makna dan pesan mitos-mitos suci di dalam kitab suci. Penafsir dan pengkhotbah dalam agama-agama bahkan mengganti mitos-mitos itu dengan doktrin-doktrin yang penuh kebencian, ambisi berkuasa dan hasrat menguasai dunia. Ritus-ritus religi diganti dengan tindakan pembataian, sweeping, ibadah-ibadah yang merayakan kemewahaan dan kemegahan diri, dan komersialisasi.

Maka, kembalikan agama sebagai religi dengan mitos-mitosnya yang bermakna kehidupan yang holistik, dengan ritus-ritus yang memperagakan dan memperjuangkan kehidupan sesungguhnya.

(Kuranga, 13 Juni 2016)
Terinspirasi dari membaca buku Karen Armstrong, “Sejarah Singkat Mitos” terjemahan Richard W. Haskin.



Sponsors

Sponsors