Bukan Soal Ongkos, tapi Kebersamaan dan Sarana Kumpul Sanak Saudara
Perayaan Pengucapan Syukur Minahasa
Tondano, ME
Perayaan pengucapan syukur kerap menuai pro kontra. Tak terkecuali di Minahasa yang menggelar perayaan yang saran nilai kultural itu Minggu (21/7) hari ini. Banyaknya biaya yang dikeluarkan oleh masing-masing keluarga di tanah Toar-Lumimuut demi mempersiapkan hidangan bagi para tamu kerap dianggap pemborosan.
“Pengucapan syukur saat ini sudah jadi ajang pesta pora. Pemborosan. Ini menyusahkan masyarakat,” tanggap Femmy Rompas, IRT asal Tondano. Menurut dia, pengucapan syukur tak harus dirayakan dengan berlebihan. “Ada mungkin yang sampai berhutang demi perayaan pengucapan syukur. Ini tidak masuk akal,” timpalnya.
Kendati begitu, mayoritas warga Minahasa tak begitu memusingkan besarnya biaya yang harus dipersiapkan untuk perayaan pengucapan syukur. "Ada yang bilang ini kata pemborosan mar tetap torang ja biking. Satu tahun satu kali kwa," kata Steven Rawung, warga Noongan, Langowan.
Menurut Steven, kebersamaan sanak saudara yang tercipta dalam momen pengucapan syukur bernilai lebih besar dari uang yang dikeluarkan untuk mempersiapkan perayaan pengucapan syukur tersebut. “Depe rame deng kebersamaan yang tercipta nda dapa ukur. Ini momen baku dapa deng sudara," lanjut Steven.
Senada dikemukakan Ronny Mewengkan, warga Tompaso. “Pengucapan syukur ini jangan dilihat dari sisi negatif. Ini harus dilihat dari sisi positif. Torang basudara pe ajang bakudapa. Ini yang penting,” pungkasnya. (ms)
Foto: Antusiasme warga Minahasa membakar nasijaha, persiapan perayaan pengucapan syukur. (ist)



































