K3M 17 TAHUN DI MAKASSAR: Lestarikan Nilai Luhur dari Wanua
Oleh: DANIEL KALIGIS
BERTEMU membincang visi, perantau Kawanua di Makassar dalam rentang panjang perjalanan. Sebelum kemerdekaan Indonesia, perantau Kawanua sudah tiba di Makassar, mereka menjalani berbagai profesi, jadi tentara, jadi guru, jadi pegawai pemerintah, dan lain-lain. Secara khusus, akhir dan awal tahun mereka berkumpul di tempat yang disepakati, menggelar berbagai acara, membawa serta adat budaya dan seni dari kampungnya. Medio November 2002, terbentuk Kerukunan Keluarga Kawanua Makassar.
Malam, 25 November 2019, di Runtono, kemeriahan para perantau Kawanua selenggarakan Ulang Tahunnya ketujuhbelas. Tarian penyambutan tampil di panggung bersama panitia, musik kolintang iringi tembang Conny Maria Mamahit, "mars Minahasa dan O Minahasa tempat lahirku" mengalun memenuhi ruangan, lalu kantoria bacakan sabda, kemudian ucapan selamat datang oleh Harry Mandey.
Malam yang semarak, lagu-lagu kenangan, sambutan, dinner, orang-orang saling berjabat tangan, melepas rindu. Apalah Tafsir, ideologi, Kawanua sudah membaur dan menjadi bagian dari Makassar, bertahun-tahun membaur dan berkegiatan di kota itu. Lalu tanya tentang orijinalitas. Realita menjawab, tiada orijinal di bumi mungkin benar. Percampuran bangsa sudah terjadi jauh sebelum orang-orang dari berbagai kampung di Minahasa dan Sulawesi Utara keluar wanua, pergi merantau dan dicatat oleh tetua dalam memori mereka.
Saya, dalam berbagai obrolan, bertanya pada perantau Kawanua. Mereka bilang, adat dan kebiasaan dari kampung masih terpelihara. Tonny G.C Kairupan, perantau Kawanua asal Remboken, terkait adat menyebut, Torang masih bawa tu tua-tua ada kase blajar, apa lagi sesuatu yang baik. "Lia jo kalu torang bakumpul kong bawakan tarian Lalayaan, Makamberu, Maowey Kamberu, deng Marambak. Lalayaan itu simbol kegembiraan, berkisah pergaulan muda mudi yang beretika. Makamberu menggambarkan aktivitas memanen suatu usaha, semisal pertanian. Maowey Kamberu melambangkan ucap syukur atas panen dan syukur dapa berkat. Kemudian Marambak itu nae rumah baru, batada-tada kaki, tanda senang tu hati,” tutur Tonny, ketika kami bercengkrama pada pertemuan tou Remboken, awal 2019 di Baruga Anging Mammiri, Jl. H.I.A. Saleh Dg. Tompo No.33, Losari, Kota Makassar.
Ulang Tahun K3M lewat sehari, saya berdiskusi dengan Harly Weku, ketua K3M. Weku, pada 27 November bertandang ke Warong Makan Wenang, Jl. Gunung Lokon. Dia bilang, ”Ke depan, torang akan selenggarakan acara lebih baik. Napa Bapontar Jakarta so bilang mau bekerjasama dengan K3M,” ujar Weku dengan senyum berbinar. Dia, dengan kritis menyoroti realita perantau Kawanua di berbagai pelosok. Kami berbicara banyak hal.
Dialektika, realita perantau. Saya mengumbar kisah-kisah lama. Orang-orang dari berbagai latar, suku, kebiasaan, adat, budaya, ada di sana. Kisah perantau semakin biasa. Di sini Makassar, mereka punya tata nilai dan kebiasaan di mana pendatang harus menghargai nilai-nilai itu. Walau, penghormatan kepada pendatang, bersifat universal.
Orang-orang yang sudah lebih dulu ada di Makassar bergaul dengan siapa saja. demikian perantau Kawanua menjadi bagian dari Makassar, seperti tutur orang Makassar. “Di batas jalan Sungai Posso banyak orang Manado, mereka sudah puluhan tahun tinggal di situ, bahkan dari kakek-nenek mereka sudah turunan entah ke berapa di situ, yang lainnya sudah pindah. Kami tidak membedakan etnis. Suka-ki juga merantau ji saya, banyak teman-temanku banyak orang Manado,” kata Abdi, Ketua RT di Lajangiru.
Abdi beristri orang Kawanua, dan saya akrab dengan keluarga mereka, “Kita pe mama fam Raranta, torang dari Kawangkoan,” beber Olla Rasu, istri Abdi.
Obrolan saya dengan perantau Kawanua, saya sampaikan juga pada Harly Weku, dalam kaitan dia sebagai ketua kerukunan. “Makanya visi tou Kawanua torang pertajam dengan program, supaya orang-orang Kawanua boleh terus bakudapa, kong boleh mo lestarikan tu nilai-nilai luhur. (*)



































