"DIA HIDUP SUPAYA KITA HIDUP"

Refleksi Paskah Menurut Teks Lukas 24:1-12


Oleh: Mordekhai Sopacoly (Teolog)

Kematian Yesus merupakan hal yang luar biasa dan hebat. Tidak ada seorang pun yang menanggalkan jubah kemuliaannya dan mengenakan jubah umat manusia. Setidaknya 3 hal dari sekian banyak makna yang dapat kita ambil dalam peristiwa kematian Yesus.

Pertama, ketika Ia mati maka manusia tidak binasa. Dialah manusia sejati. Dialah imamat yang rajani. Lewat kematian-Nya semua orang dapat berdoa secara langsung dan tidak ada yang membatasinya. Kedua, Ia menggenapi hukum Taurat dan lewat kematian-Nya, manusia pada akhirnya dapat memahami makna sesungguhnya hukum taurat (Kasih), supaya semua orang tidak merasa tertekan yang selalu ada aturan-aturan (613 aturan dalam HukumTaurat). Ketiga, pelayanan-Nya yang hanya 3 tahun itu, sungguh menggetarkan dunia dan membuat seluruh dunia terkaget-kaget dan takjub kepada-Nya.

Tapi, semua itu belumlah lengkap/komplit jika Yesus tidak bangkit. Paulus mengatakan jika Yesus tidak bangkit, maka sia-sialah kepercayaan kita (1 Korintus 15:14). Kebangkitan Yesus adalah bukti kekalahan kuasa dosa dan maut. Kebangkitan Yesus menjadi inti, menjadi kunci kepercayaan umat Kristen bahwa Yesus adalah Juruselamat, Kebangkitan Yesus menjadi pusat dari Alkitab. Dia menang  atas dosa dan maut. Dia benar-benar anak Allah yang menjadi manusia yang menderita.

Menurut Lukas 24:1-12, kita diperhadapkan dengan perempuan-perempuan yang pergi ke kubur Yesus. Pada hari minggu pagi-pagi benar (amper siang onaa da pigi). Apa yang mereka lakukan? Perempuan-perempuan hendak membawa rempah-rempah (Yunani: haromata= minyak wangi kental untuk membalsem jenazah supaya tidak membusuk sebab itu merupakan adat Yahudi). Hal ini menunjukkan bahwa perempuan lebih concern (perhatian/peduli).Dari segi sosiologis menggambarkan peran perempuan yang penting. Saat mereka berkunjung ke kubur Yesus ternyata batu yang menutup kuburan telah terguling dan mayat Tuhan Yesus  tidak ada dalam kubur. Tiba-tiba muncullah 2 malaikat dan berkata kepada mereka “Mengapa kamu mencari Dia yang hidup di antara orang mati? Saudara-saudara, pertanyaan ini mengandung teguran halus karena tidaklah mungkin  bahwa Yesus harus tinggal dalam kekuasaan maut.

He has risen ! Dia harus bangkit seperti yang telah diungkapkan Yesus sendiri bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, tetapi akan bangkit pada hari yang ketiga (ayat 7). Nah, apa yang terjadi, perempuan-perempuan tersebut menjadi sadar dan segera menyampaikan kepada murid-murid Yesus. Apa yang terjadi ? Murid-murid tidaklah percaya kepada perkataan perempuan-perempuan itu (BIS: menceritakan yang bukan-bukan; NIV: non-sense; TB: omong kosong). Kepercayaan para murid atas kebangkitan Yesus didasarkan pada pengalaman empirik (kejadian nyata, dapat dilihat).Ternyata pada waktu itu, ada stigma sosial dalam budaya masyarakat Yahudi: perempuan dianggap warga kelas kedua (perempuan dinomorduakan).

Akan tetapi, kebangkitan Yesus mendobrak pemahaman atau tradisi pada waktu itu. Perempuanlah yang pertama kali menyaksikan kubur Yesus telah kosong. Perempuan menjadi saksi pertama bahwa Yesus sudah bangkit. Mereka justru lebih peduli dari pada murid-murid yang adalah laki-laki. Melalui kebangkitan Yesus membuka cakrawala baru serta mengangkat harkat dan martabat perempuan. Kebangkitan Yesus mematahkan “kutukan” Perjanjian Lama. Mereka yang dahulu tidak dianggap, namun semuanya sama, perempuan dan laki-laki itu setara. Keduanya duduk dengan kursi yang sama tinggi.

Kebangkitan Yesus merupakan fakta sejarah. Kita harus percaya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Karena tahukah kita, Matius 28:11-15 mencatat bahwa ketika Mahkamah Agama tau bahwa Yesus telah bangkit, mereka menghasut banyak orang, mereka berdusta dan memalsukan fakta bahwa Yesus telah bangkit, dengan mengatakan bahwa murid-murid telah mencuri mayat Yesus.

Maka dari itu, bagi kita yang belum percaya akan kebangkitan-Nya, bertobatlah dan percayalah kepada-Nya. Walaupun kita tidak melihat peristiwa tersebut secara langsung, namun ingatlah ungkapan Yesus “Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya” (Yohanes 20:29).

Apa pelajaran yang dapat kita ambil saat kita merayakan Paskah kita di saat ini ? Pertama, sebagaimana perempuan yang berani yang pagi-pagi benar datang ke kubur Yesus karena memiliki keinginan yang kuat untuk bertemu dengan Yesus, maka kita juga setia mencari Yesus. Torang saat ini, kalo pagi-pagi bukannya cari Tuhan (dalam doa) malah cari handphone. So cari selop/sandal lebih dulu dibandingkan dengan menghadapTuhan. Kita mensyukuri kasih karunia Allah yang dipancarkan lewat terciptanya hari yang baru. Carilah Yesus maka Dia akan selalu mencolong kita.

Kedua, Tuhan mempercayakan tugas dan tanggungjawab pelayanan kepada semua orang tanpa membeda-bedakan laki-laki dan perempuan. Saya harus mengatakan bahwa kita harus mengubah cara pandang dan pola pikir kita. Biasanya di rumah dalam keluarga. Istri bagaikan pembantu dan suami yang baprenta! Ada juga dalam organisasi. Ibu-ibu selalu ditempatkan dalam Sekretaris, Bendahara, seksi konsumsi.

Namun, dalam hal pelayanan (HambaTuhan) saat ini, di GMIM misalnya, pendeta perempuan yang paling terbanyak dibandingkan dengan laki-laki. Tapi belum ada Perempuan yang menjadi Ketua Sinode. Kebangkitan Yesus menyatakan bahwa peran perempuan dan laki-laki adalah sama!

Ketiga, jika Yesus telah bangkit, maka kita pun sebagai anak-anak-Nya, bangkit ! Bangkit dari keterpurukan, bangkit dari penderitaan, yang malas menjadi rajin dan kase maju torang pe pelayanan terhadap umat.

Dalam keyakinan iman kepada Yesus yang bangkit, marilah kita jadikan kehidupan kita menjadi saksi-Nya. Kita hidup di dalam Dia supaya kita menjadi alat-Nya, mendatangkan harapan di tengah penderitaan. Paskah menjadi sumber semangat untuk hidup dan sumber kerelaan untuk berbagai kehidupan dengan menyalurkan damai sejahtera bersama orang lain. Lewat kebangkitan-Nya, kita dihidupkan untuk menghidupkan (Si Tou Timou Tumou Tou) = Orang yang hidup untuk menghidupkan orang lain.

Selamat Pasakah, Kristus Bangkit. Haleluya. (*)



Sponsors

Sponsors