Mengupas Sejarah GMIM Sion Sentrum dalam Khotbah Perayaan HUT ke-184
Kawangkoan, MX
Jemaat Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) Sion Sentrum Sendangan Wilayah Kawangkoan Satu mencatat sejarah iman. Wabah Coronavirus Diseases 2019 (Covid-19) yang melanda, tak mengurungkan semangat jemaat dalam merefleksikan hari kelahiran yang ke-184 Tahun.
Pada awal khotbah perayaan hari ulang tahun (HUT) Ke-184, Ketua Jemaat Sion Sentrum Sendangan Pendeta Christian Luwuk, M.Th menjelaskan, sejarah lahirnya Gereja Sion Sentrum.
“Pada tanggal 12 Mei 1836 ditetapkan sebagai tanggal perayaan ulang tahun jemaat. Itu Dihitung dari tiga orang pertama yang menerima baptisan, sesuai dengan catatan sejarah jemaat yang disepakati bersama," ungkap Luwuk.
Dijelaskannya, “Jadi ada tiga orang warga pribumi, orang Kawangkoan yang mengambil keputusan iman untuk memberi diri menjadi orang percaya dan menerima sakramen baptisan yang kudus yang dilakukan oleh penginjil Johan Gotlibh Schwarz yang Tuhan hadirkan di tanah Minahasa. Ia datang di tanah Minahasa mengabarkan Injil dari Langowan kemudian bergerak sampai di Kawangkoan menyampaikan berita Injil dan membaptis tiga orang yaitu Maria Dotulong, Ishak Najoan dan Enos Palar sesuai catatan sejarah jemaat.”
“Salah satu dari tiga orang tersebut adalah orang Kiawa, karena itu jemaat Zaitun Kiawa juga hari ini merayakan ulang tahun jemaat, hari peringatan Injil masuk di tanah Kiawa,” sambungnya.
Menjelang perayaan HUT Jemaat, lonceng menara diturunkan karena situasi dan kondisi serta keamanan.
“Kita bersyukur, menjelang perayaan ini ada beberapa hal yang bernilai historis boleh Tuhan hadirkan kepada kita. Beberapa waktu yang lalu lonceng di menara kita diturunkan. Banyak orang di jemaat kita dari tahun ke tahun yang tidak pernah melihat secara langsung lonceng ini, tetapi karena situasi dan kondisi diturunkan kemudian kita melihat secara langsung dan juga lewat FB, ternyata sangat bernilai sejarah,” ucap Pendeta Luwu.
Ia menjelaskan, dari catatan yang diukir di lonceng tersebut menunjukkan bahwa lonceng ini dibuat di Rotterdam, Belanda pada tahun 1865.
"Sudah lebih dari 100 tahun keadaan lonceng ini. Walaupun kita tidak tahu kapan secara pasti lonceng mulai digunakan di gedung gereja ini. Apakah mulai digunakan pada gedung yang pertama, yah kita tidak tahu. Ketika gereja bangunan yang pertama didirikan tahun 1860 belum berarti karena lonceng 1865, tapi bangunan 1860 itu digunakan hingga tahun 1889,” ulasnya.
Kemudian dalam khotbahnya juga dijelaskan bahwa ada buku yang bernilai sejarah ditulis langsung oleh J.G. Schwarz.
“Buku yang bernilai sejarah ini tentang register baptisan mulai 1837-1855 dan dilanjutkan dalam buku yang kedua 1856. Catatan disini yang mencatat adalah J.G Schwarz penginjil pertama yang datang di tanah Minahasa tahun 1831 dan disini ada catatan kalau tidak salah baca 21 Mei 1837 ada data pembaptisan tiga orang ada Enos, Ishak dan Maria," ceritanya.
Tentu catatan-catatan ini memperkaya catatan tentang sejarah jemaat disamping tulisan yang disusun oleh C.H Tangkere yang disadur oleh Frans Wowiling disusun pada tahun 1936 mengenai Masuknya Sejarah Injil di Kawangkoan.
“Jadi ini perlu ditelusuri untuk memperkaya dalam rangka memahami tentang karya kasih Tuhan dalam perjalanan pelayanan jemaat,” ungkapnya.
“Ada juga dokumen yang sempat saya buka, tetapi lewat rekam digital yaitu penetapan kembali jemaat-jemaat GMIM yang ada di Kawangkoan, Tombasian, Ranolambot, Kiawa yang mulai berlaku pada tanggal 1 Januari 1951 sesuai keputusan Badan Pekerja Sinode GMIM.”
Secara pribadi, ia menyampaikan rasa syukurnya bersama keluarga, karena sudah setahun memimpin jemaat ini.
“Bahkan secara pribadi bersyukur, karena tanggal 12 Mei 2020 genap 1 tahun pelayanan di Jemaat GMIM Sion Sentrum Sendangan karena tahun lalu ada pelaksanaan serah terima.”
Ia berharap, anggota jemaat untuk tidak melupakan para saksi sejarah jemaat ini. Menurutnya jemaat yang ada sekarang ini dengan segala kemajuan yang ada itu tidak bisa dilepaskan dari perjuangan para tua-tua, generasi pendahulu yang telah bekerja, berjuang dan berkorban untuk gereja ini sehingga apapun kondisi di saat ini, jangan pernah melupakan sejarah.
Sejumlah pesan-pesan ucapan syukur juga ia sampaikan dalam khotbahnya. Ini dilakukan untuk menguatkan iman percaya seluruh anggota jemaat dalam berefleksi. Pembacaan Alkitab pada kitab Yunus 4:1-11 dan Ibrani 13:7-8, jadi bacaan pada perayaan HUT itu.
Ia juga berpesan agar jemaat terus menggumuli bersama pandemi Covid-19 yang melanda dunia.
Semarak perayaan HUT Jemaat berjalan dengan baik walaupun agak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Ibadah dilaksanakan dirumah masing-masing dan dipandu melalui Jaringan TV Kabel, Siaran Radio dan Live Streaming Facebook.
Perayaan HUT Jemaat dikemas sedemikian rupa oleh Panitia Hari-hari Raya Gerejawi tahun 2020. (Marselino Runturambi)



































