Inovasi Pekerjaan Musisi Dalam Ruang Percepatan “New Normal Era”


Oleh: Erwin Sianturi, M.Sn. (Dosen Program Studi Pendidikan Musik Gereja, IAKN Manado)

Masa “new normal” atau tatanan hidup baru dalam suasana pandemi Covid-19 cukup banyak memberikan pengaruh besar bagi pekerja musik di Kota Manado saat ini. Walaupun saat sekarang sudah memasuki masa “new normal”, namun sebagian besar kafe-kafe yang terletak di daerah kawasan Mega Mas, jalan Boulevard Kota Manado, tempat kebanyakan para pekerja musik hiburan bekerja, masih belum beroperasi.

Perayaan-perayaan besar seperti pesta pernikahan juga masih jarang karena masyarakat masih takut, dan penerapan kebijakan protokol kesehatan yang dianggap ribet membuat sebagian besar orang enggan menyelenggarakan pesta pernikahannya pada masa pandemi ini. Hal tersebut sudah tentu membuat lahan pekerjaan bagi para pekerja musik hiburan di Kota Manado terhenti.

Berdasarkan fenomena tersebut, pasti beberapa di antara kita bertanya bagaimana para pekerja musik tersebut dapat survive? Dari diskusi dengan beberapa pekerja musik di Kota Manado, sekaligus menganalisa aktivitas musikal di media social, ditemukan bagaimana para pekerja berinovasi agar dapat bertahan hidup selama masa “new normal” di pandemi Covid-19 ini.

Pada masa “new normal”, kebanyakan para pekerja musik yang menggantungkan hidupnya dengan bermusik masih belum dapat bekerja seperti biasanya. Sehingga, beberapa pemusik mencoba mengembangkan bisnis di luar bidang musik.

Sebut saja KA (inisial), salah satu musisi di Kota Manado. Demi memenuhi biaya hidup dia mencoba berbisnis kuliner online. Walaupun penghasilan dari penjualan tersebut tidak signifikan namun sangat membantu untuk dapat survive. Selain itu, ada juga beberapa pemusik yang mencoba berjualan sayur-sayuran di pasar maupun sebagai distributor online antara petani dengan pembeli melalui sosial media.

Bisnis jualan kebutuhan pokok pada masa pandemi menjadi beberapa pilihan utama bagi para pemusik untuk dapat survive di saat dunia hiburan sedang tidak aktif.

Selain berbisnis kebutuhan bahan pokok pada siang hari, biasanya beberapa pemusik di malam hari membuat konten musik kreatif melalui akun media sosial. Tujuannya adalah mencari pendapatan tambahan dari monotize Youtube maupun benefit dari akun sosial lainnya yang dimiliki mereka.

Beberapa konten kreatif seperti review produk alat musik, cover lagu, hingga menyelenggarakan “ngamen live streaming” dengan sesi jamming bareng teman-teman musisi lainnya, menjadi hal yang sedang tren bagi musisi pada masa pandemi. Dengan mencantumkan nomor rekening di akun sosial medianya pada saat ngamen virtual, para pemusik berharap para penonton virtual yang ingin mengapresiasi dan membantu dapat transfer langsung ke nomor rekening tersebut. 

Ada juga beberapa musisi yang memiliki followers atau subscriber banyak, biasanya mereka menjalin kerja sama dengan beberapa produk untuk mempromosikan produk tersebut. Jadi, sembari melakukan pertunjukan virtual, sembari itu juga mempromosikan produk tersebut. Dari situ, pemusik mendapatkan bayaran dari pemilik produk dari hasil promosi.

Berdasarkan fakta tersebut dapat dianalisis bahwa masa “new normal” adalah situasi yang “memaksa” bagi kaum pekerja musik untuk “bangun” dari zona nyaman mereka. Para pekerja musik harus mampu berinovasi.

Pada masa ini diharapkan para pekerja musik memiliki kesadaran baru bahwa mereka sekarang hidup pada arena “pertarungan” 4.0. Di mana segala aspek kehidupan berevolusi menuju ruang digital dan virtual. Dengan meminjam istilah dari Virillio (1977) yaitu  “ruang-ruang kecepatan” maka masa “new normal” pandemi Covid-19 ini, merupakan sebuah kendaraan yang “memaksa”, “menarik” para pekerja musik untuk berlari cepat menuju puncak perubahan tersebut.

Bisa saja dalam waktu singkat banyak kafe-kafe berevolusi menjadi kafe digital virtual. Pastinya dunia hiburan berinovasi ke ranah virtual juga. Maka, kemungkinan besar juga pekerjaan di dunia musik juga mengalami inovasi yang sangat signifikan menuju ruang pekerjaan virtual. Secepatnya akan semakin banyak jenis desain pekerjaan musik yang konvesional ditinggalkan dan digantikan dengan konsep pekerjaan musik algoritmik. Hal tersebut bisa saja terjadi, buktinya siapa sangka ternyata pekerjaan sebagai youtuber maupun gamers online pada masa ini menjadi pekerjaan yang menjanjikan, padahal dulu banyak orang berpikir kedua profesi itu bukan termasuk sebuah pekerjaan.

Beberapa alternatif pekerjaan di luar bidang musik yang digeluti sementara oleh sebagian pemusik untuk memenuhi kebutuhannya pada masa pandemi merupakan bentuk respon “kaget”, karena belum siap menerima perubahan yang terjadi. Namun, itu hanya permulaan saja, dan itu wajar, karena perubahan yang dilakukan oleh Covid-19 ini sangat drastis. Butuh waktu, kesadaran, dan niat dari pekerja musik untuk berinovasi.

Mau tidak mau, cepat atau lambatnya gaya hidup akan menuju pada ruang digital dan virtual. Sehingga pada saat ini diharapkan setiap pekerja musik memiliki cara pandang jauh ke depan dalam melihat situasi kondisi masa sekarang. Semoga masa sulit ini mampu menstimulus kesadaran pekerja musik untuk berinovasi mengembangkan teknologi musik digital virtual dalam menjalani ekonomi algoritmik global. (*)



Sponsors

Sponsors