Kejutan Ulang Tahun untuk Istri Tercinta


Catatan: Gazali Ligawa

Memasuki awal bulan November tahun 2021, mentari pagi menyinari kampung halaman saya Desa Kotabunan, Kecamatan Kotabunan, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim).

Di pagi hari yang cerah itu, saya duduk di teras rumah menikmati secangkir kopi sambil menghisap sebatang rokok.

Tiba-tiba kekasih hati, Monalisa Mamonto, ikut duduk bersama. Awalnya kami mengobrol biasa-biasa saja, tetapi lama-kelamaan ia sedikit memberikan sinyal bahwa bulan ini adalah bulan kelahirannya.

Namun pada saat itu, saya tidak menanggapi ucapannya. Hanya memandangi istriku, kemudian berpikir kejutan apa yang akan diberikan oleh saya di hari spesialnya itu.

Suatu konsep pun terlintas dalam benak, di momen hari ulang tahunnya itu, saya akan pergi ke luar daerah sehingga tidak bisa bersama pada saat hari istimewanya tersebut.

Saya pun mengatakan bahwa dalam beberapa hari ke depan akan pergi ke luar daerah bersama teman-teman Komunitas Momais, untuk melakukan persiapan penerbitan buku kami. Karena pada bulan ini juga komunitas literasi yang tergabung oleh beberapa para pewarta dan juga aktivis ini, akan melakukan launching buku di salah satu ikon wisata yang ada di daerah Boltim.

"Sayang, kita mo pigi ka Tomohon ne. Ada kegiatan torang pe komunitas di sana, sekaligus ada pelatihan menulis dengan dorang Rikson Karundeng," ucap saya.

Kemudian istriku menanyakan kapan pelaksanaan agenda kami itu. "Kapan ngoni pe acara itu, Be? Kong brapa hari dang?" tanya istriku dengan sedikit wajah cemberut. Yah mungkin dia khawatir bahwa agenda kami itu akan bersamaan dengan hari ulang tahunnya.

Rencanaku ini sepertinya berhasil membuatnya gelisah karena tidak bisa bersama di saat hari kelahirannya nanti.

"Torang pe acara itu tiga hari. Dari tanggal 7 November sampe 9 November." Mendengar lontaran perkataanku itu, corak paras istriku langsung menjadi murung.

Menjelang hari ulang tahunnya yang jatuh pada 8 November, calon ibu dari anak-anakku ini semakin merasa gelisah karena suami tercintanya tidak bisa menemani pada saat momentum hari ulang tahun perdananya sebagai seorang istri.

Melihat tingkah lakunya yang semakin murung, dengan bunyi nada lembut saya bertanya apa yang sedang dipikirkannya, sehingga beberapa hari ini dirinya keliatan seperti orang galau.

"Yang ada apa? Kiapa kong murung-murung trus dang brapa hari ini?" tanyaku dengan berpura-pura tidak tahu. Pada hal suaminya ini sudah memahami kenapa dirinya seperti itu. Ada tawa geli dalam hati.

Awalnya dia tidak memberi tahu. Setelah berulang-ulang kali dilontarkan pertanyaan, akhirnya pertahanannya pun runtuh dan memberanikan diri untuk jujur kepada saya.

"Be, sudah jo pigi kwa. Kiapa kong tanggal bagitu dang itu ngoni pe kegiatan," pintanya.

Kemudian saya langsung memeluknya dan lebih meyakinkannya bahwa kegiatan kami ini harus wajib dihadiri karena urusan tersebut sangatlah penting.

Beberapa waktu kemudian, jadwal hari pelatihan yang saya sebutkan telah tiba. Ia tercengang karena saya masih berdiam diri di rumah saja.

"Hay, Be kiapa nda pigi," tanya istriku.

"Biar jo nda jadi pigi kita," jawabku.

Mendengar perkataanku ini, senyuman anggun pun dipancarkan dari aura parasnya.

Sehari menyongsong hari ulang tahun istri tercintaku ini, aku pun memesan kue untuknya sebagai suprise pada pukul 00.00 Wita, Senin 8 November 2021.

Minggu malam pukul 19.30 Wita, beberapa jam menuju hari ulang tahunnya itu, ia meminta saya untuk menemaninya pergi mencari makanan kesukaannya di luar rumah, tinutuan. Makanan ini adalah salah satu ciri khas makanan di daerah kami di Sulawesi Utara (Sulut).

Namun langganan kami yang biasa menjual tinutuan tidak memasarkan makanan itu, sehingga kami bersepakat menuju salah satu kedai sahabat kami yang berlokasi di Desa Bulan Satu, Kecamatan Kotabunan.

Rasa rindu terhadap tempat ini pun tiba-tiba seketika dirasakan oleh kami, karena sejak istri saya mengandung, kami sudah jarang nongkrong di Kedai Santuuyy ini.

Begitu sampai di salah satu tempat favorit itu, Alan Raupu, pemilik Kedai Santuuyy langsung menawarkan beraneka menu yang dimilikinya.

"Mo pesan apa ngoni dua," tanya Alan.

Kemudian istriku mengatakan bahwa dia ingin dihidangkan sepotong ayam serundeng dengan segelas minuman es teh.

"Kita mo pesan ayam deng es teh jo, Lan," kata istriku.

Usai memesan makanan kesukaannya, ia menawarkan kepada saya makanan dan minuman apa yang ingin dihidangkan. Kebetulan waktu itu perut masih terasa kenyang, jadi tidak memesan makanan. "Kita pesan pisang goroho stik jo Yank, dari masih kanyang ini. Mar bungkus ne, nanti mo makang di rumah jo kong mo par deng kopi," jawabku.

Setelah istriku selesai makan, tidak lama kemudian Alan memberikan pesanan saya yang sudah ia kemas dalam kantong plastik. Kami pun berpamitan untuk balik ke rumah.

Sesampai di rumah, kami duduk di depan teras rumah menikmati cemilan tersebut. Pada pukul 21.00 Wita, istriku mengatakan kepalanya sakit dan ingin segera tidur lebih awal. Saya pun langsung menyuruhnya untuk bergegas masuk ke kamar karena ia sedang mengandung dan perutnya kini tengah memasuki usia 6 bulan.

Sekitar pukul 22.00 Wita, saya kedatangan teman-teman terdekat. Apunk, Amix, dan juga Coy. Kami pun nongkrong di depan rumah, kemudian melakukan berbagai aktivitas.

Apunk dan saya asik bermain game online Mobile Legends bersama beberapa remaja yang sering nongkrong juga di depan rumah saya. Sedangkan Amix dan Coy asik mengobrol.

Belum lama kemudian, Amix mengatakan bahwa dirinya akan ikut bermain bersama kami. "Deng kita kwa mabar," kata pemuda berdarah Arab ini.

"So bermain torang ini, Bib. Kase abis ini jo baru iko mabar," jawab saya.

Kemudian Amix pun ikut main bareng bersama. Tetapi waktu itu saya tidak ikut bermain lagi karena jam sudah menunjukkan pukul 23.30 Wita. Waktunya saya menyiapkan kejutan bagi istri tercinta.

Saya pun meminta tolong kepada Hendi Potabuga, yang akrab disapa Coy ini, untuk menemani mengambil kue ulang tahun pesanan saya.

Usai mengambil kue kejutan, saya menyimpannya di lemari dapur karena takut ketahuan oleh istriku. Setelah itu kembali bergabung bersama teman-teman di depan rumah, sambil menunggu pukul 00.00 teng.

Waktu berlalu cepat, momen yang dinanti-nantikan tiba. Saya segera menghampiri istri yang sedang tertidur pulas. Kemudian berbaring di dekat dan memeluknya erat. Gannguan itu ternyata membuat ia terbangun.

"Yank, tamang akang pa kita mo makang kwa, so jam satu ini kong kita so lapar," kata saya memberikan sinyal bahwa waktu itu sudah menunjukkan pukul 1.00. Menandakan hari ulang tahunnya sudah melewati 1 jam.

"Minjo dang, mo tamang akang," ucap istriku.

Sebelum bangun dari tempat tidur, ia mengambil ponsel lalu melihat pada saat itu sudah menunjukkan pukul berapa. "Hay, baru jam dua belas lewat ini no, bilang so jam sata," kata istriku dengan ekspresi kaget.

Sepertinya ia belum menyadari bahwa saat itu dirinya sedang berulang tahun. Kemudian saya menyuruh kupingnya untuk didekatkan ke bibir saya, karena ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.

"Selamat ulang tahun ne sayang," bisikku.

Mendengar ucapan itu, ia pun langsung menyadari bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya.

"Makase ne sayang. Hay, sayang tau dari mana ini hari kita pe ultah," tanyanya kebingungan.

"Masakan istri sandiri pe ulang tahun kong depe suami nyanda tau," sebut saya.

Saat itu kue ulang tahun sengaja belum dikeluarkan, karena itu adalah salah satu rencana lain yang disiapkan. "Yang, sory ne cuma ba kase slamat ucapan kong nyanda ada kukis ulang tahun kasiang," ucap saya dengan berpura-pura sedih.

"Nyanda apa-apa kwa, Sayang. Dengan ngana ada di dekat pa kita jo kong nyanda jadi pigi ka Tomohon, kita so sanang skali," kata istriku sambil memeluk rapat tubuhku.

Melihat sikapnya yang begitu sederhana, aku pun sangat bersyukur karena telah dikaruniai seorang istri yang luar biasa.

"Yank skali lagi sory ne, nyanda ada kukis ulang tahun," perkataan ini berulang-ulang kali dilontarkan saya, dengan tujuan membuatnya sedih bahwa di saat momen hari ulang tahunnya, suaminya tidak mempunyai rasa perhatian karena tidak ada persiapan kue.

Namun ia masih merespons dengan tenang. Dengan menunjukan wajah sedih, saya mengatakan bahwa dirinya tampak tidak terlalu bahagia karena ucapan ku tidak didilengkapi dengan kue ulang tahun.

"Dia rupa nyanda sanang e. Kalo lalu kasiang kita pe ulang tahun dia ada kase akang kukis, sedangkan dia pe ulang tahun kita nyanda kase akang kukis," ucap ku, berharap istri tercinta termakan perkataan itu.

Usai memberikan ucapan selamat ulang tahun, saya kembali mencium istriku, kemudian berkata ingin bergabung kembali bersama teman-teman saya di depan rumah.

Setelah beberapa menit berlalu, saya kembali masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke dapur mengambil kue yang telah disembunyikan dengan rapi.

Kue ulang tahun yang berbentuk hati itu saya hiasi dengan dua lilin kecil. Kemudian menyiapkan lagu dari Masta Malau yang berjudul "Kado Ulang Tahun". Lagu ini nantinya akan mengiringi kejutan saya.

Merasa persiapan sudah matang, pijakan kaki langsung mengarah menuju kamar. Di depan pintu kamar, lilin dinyalakan dengan korek api yang saya ambil dari saku celana.

Diiringi irama lagu, “Lilin kecil menyala di sini, ku redupkan kembali lagi, ku panjatkan doa tulus dan suci, ku ingat hari ini ultah mu.” Aku pun masuk dengan perlahan membawakan kue ulang tahun untuk istri tercintaku.

"Selamat ulang tahun istriku," ucap saya dengan membawakan kue tersebut.

"Hay, ini kukis sayang ada pesan di mana? Kapan? Prasaan dari tadi sayang cuma badiam trus di rumah," tanya istriku dengan ekspresi tampak kagum.

"Tiop dulu ini lilin kwa, jang dulu ba tanya ini kukis dari mana," kata saya menipis pertanyaannya.

Kilauan api dari kue itu pun ditiup oleh istriku beberapa kali, karena lilin tersebut sangat sulit dipadamkan.

Suasana malam pun terasa menjadi sangat romantis. Tak terduga, tetesan air mata dari istriku akhirnya pecah. Saya langsung memeluk dan menciumnya, lalu berkata, pada usianya saat ini, doa serta harapan apa-apa saja yang diinginkannya.

"Kita pe doa deng harapan saat ini, Yang, semoga keluarga ini selalu diberikan kesehatan, serta torang dua pe rumah tangga mo langgeng terus." Tuturan ini pertama kali dilontarkan dari dalam bibir istriku.

"Yang kadua, Yang, semoga kita pe persalinan ini Insya Allah diberikan kelancaran, dan torang dua pe calon anak ini mo sehat-sehat trus," ucap istriku sambil mengelus perut buncitnya.

"Yang ketiga, kita pe doa deng harapan ke depan, semoga keluarga ini semakin bertambah depe usia, depe rasa sayang le semakin bertambah. Baru torang dua pe rasa sayang le, nyanda pernah mo tarubah," kata istri kesayanganku ini.

"Amin, samua Sayang pe doa deng harapan ini pasti akan mo terkabul," kata ku memastikan bahwa keluarga serta persalinannya nanti akan baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian, ia mengatakan bahwa akan melanjutkan tidurnya karena kepalanya saat itu masih terasa pusing.

"Oh io, tidor ulang jo, Yang. Supaya itu kapala nyanda mo tambah saki."

Aku pun mengambil sebotol minyak kayu putih untuk dioleskan di kepalanya, diiringi beberapa pijatan jemar. Setalah istri tercintaku ini tertidur nyenyak, kantung mata ku sepertinya ingin beristirahat juga.

Karena rasa kantuk ini tidak bisa ditahan lagi, saya pun berbaring di sampingnya, sambil memeluknya.

Dalam hitungan detik, akhirnya kedua bola mata saya terlelap juga. Tidur tenang dalam rasa kasih yang dalam untuk istri tercinta dan calon buah hati kami. (*)



Sponsors

Sponsors