Estafet Kader Golkar Sudah Lama Terputus
Jakarta, ME
Skema pertarungan di tiap partai politik (Parpol) diakui berada di tangan para pemimpin. Namun, kaderisasi yang mandek dianggap terus jadi kendala di sejumlah parpol di Indonesia. Seperti halnya Partai Golkar. Estafet kader berkualitas dari partai berlambang pohon beringin ini, dinilai telah lama terputus. Tak pelak, elektabilitas pun ikut merosot.
Hal itu diakui Sekretaris Jendral (Sekjen) Partai Golkar versi Munas Jakarta, Zainudin Amali. Ia menyebut, pesta demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) seharusnya jadi akademi pencetak kader dan tokoh muda yang lebih tangguh. Namun, sejumlah pemilu yang telah dihelat, tak sanggup melahirkan pemikir-pemikir segar dan giat.
"Begitu juga partai Golkar. Nyaris setelah reformasi bergulir, Golkar belum menemukan skema tranformasi kepemimpinan dan regenerasi yang mantap. Akibatnya, suara Golkar selalu merosot dari pemilu ke pemilu," ulas Amali lewat keterangan tertulisnya, Jumat (9/1).
Amali menyatakan, pergantian kepemimpinan lewat pemilu kepala daerah langsung di daerah, masih menjadi ruang tempa yang jitu guna membentuk karakter kader untuk jadi calon pemimpin baru.
"Itulah alasa kenapa dengan kencang saya menyuarakan Pilkada langsung tetap diberlakukan," tegasnya.
Meski demikian, Amali mengaku keinginannya ini belum bisa dipastikan terwujud. Pasalnya, keberlanjutan nasib Pilkada masih akan ditentukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pada 12 Januari nanti. Ia berharap, suara yang mendukung Perppu Nomor 1/2014 tentang Pilkada Langsung, bisa bulat.
"Jika itu menjadi kenyataan, Golkar tetap harus bersiap menghadapi tantangan yang lebih besar ke depan. Pada 2015 ini ada 204 daerah yang bersiap melakukan tranformasi kepemimpinan. Golkar perlu berperan lebih untuk mendorong terjadinya tranformasi kepemimpinan di tingkat lokal. Penjaringan calon pemimpin daerah yang diusulkan dari partai ini harus mempunyai integritas, kompetensi dan kapabilitas yang dibutuhkan untuk membenahi tata kelola pemerintahan di daerah," bebernya.
Ia mengatakan, untuk melakukan kaderisasi, tidak semudah membalik telapak tangan. Karena itu persiapan harus betul dimatangkan. Ia menyebut, pemimpin besar tidak datang begitu saja. Seorang pemimpin besar pasti tumbuh dari bumi, dibentuk oleh pengalaman-pengalaman yang membuatnya tertempa.
"Ini pentingnya membuka lebar-lebar kelembagaan partai, untuk memberi kesempatan bagi golongan muda berkarya. Dengan begitu, semakin besar kemungkinan tokoh-tokoh muda lahir dari rahim Partai Golkar," harapnya.
Tetapi, kata dia, yang terpenting jika kader-kader itu lahir, harus diimbangi dengan perbaikan sistem tranformasi kepemimpinan dalam kelembagaan partai.
"Pelaksanaannya wajib berjalan secara demokratis agar tak terjadi perpecahan," imbaunya, lagi.
Sebelumnya, menyusul segera dilaksanakannya Pilkada secara serentak, yang tahapan persiapannya dimulai Februari mendatang, dua kubu pengurus Partai Golkar menyepakati urusan proses pemilihan kepala daerah kepada pengurus di daerah.
"Kami sudah sepakat untuk menyerahkan itu kepada daerah. Kalau nanti mulai bermasalah, baru kita yang di DPP turun," ujar Agung Gunanjar Sudarsa saat dihubungi, Jumat (9/1).
Ia menjelaskan, hingga kini, kedua kubu memang belum bersepakat mengenai struktur kepengurusan partai yang sebenarnya. Namun, semenjak Kemenkum HAM menolak mengesahkan kepengurusan kedua kubu, Golkar sepakat menggunakan kepengurusan hasil Munas Riau tahun 2009 untuk kepentingan pilkada. Meski, keduanya menganggap kepengurusan lama tersebut sudah demisioner.
"Kepengurusan kita belum bersepakat, kita merujuk pada surat Kemenkum HAM. Yang jelas, petunjuk pelaksanaan keikutsertaan Golkar dalam pilkada dilakukan dengan mengirim surat kepada Komisi Pemilihan Umum," terangnya.
Pengamat politik dari Lembaga Penelitian Indonesia Syamsuddin Haris mengatakan, perkembangan Partai Golkar setelah tumbangnya Orde Baru memang terus merosot. Menurut dia, kemerosotan akibat partai berlambang beringin ini tak mempunyai sosok panutan.
"Kurangnya dalam pengkaderan sehingga Golkar semakin merosot. Termasuk dalam pencapresan," kata Syamsuddin, lewat pesan singkat.
Dari beberapa pengalaman, partai Golkar itu, Syamsuddin menyarankan agar partai ini serius menjalankan kaderisasi anggota yang lebih kompeten.
"Semacam membentuk konvensi. Ini kesalahan Golkar, yang asal menjadikan orang yang 'kepedean' ingin mencalonkan diri, tanpa menilai kualitasnya. Ini alasan elektabilitas Golkar terus merosot," tutupnya.(happy karundeng)



































