Walikota Muslim di Belanda Kecam Kekerasan Atas Nama Agama


Roterdam

Warga dan pemerintah Belanda mengecam kekerasan atas nama agama yang menimpa Tabloid Charlie Hebdo pekan lalu. Wali Kota Rotterdam Ahmed Aboutaleb, seorang muslim keturunan Maroko, bahkan menyerukan imigran yang berpaham garis keras enyah dari Eropa jika tak suka dengan konsep kebebasan ekspresi.

Aboutaleb menyatakan ada jutaan imigran muslim yang bisa menerima filosofi kebebasan ala Benua Biru dan membaur dengan masyarakat. Maka dari itu, dia mengecam aksi terduga militan asal Aljazair yang menyerang tabloid penghina Nabi Muhammad.

"Serangan teror pada wartawan di Prancis merupakan kemunduran dan tidak dapat dibenarkan. Padahal imigran sudah diberi kebebasan penuh (untuk mencari nafkah). Saya pun berharap orang-orang yang tidak bisa menerima nilai-nilai seperti itu di Belanda untuk segera pindah," ujarnya seperti dilansir the independent, Rabu (14/1).

Pernyataan keras itu dia sampaikan saat mengikuti acara bincang-bincang televisi Nieuwsuur. Aboutaleb heran, mengapa fundamentalisme menguat di kalangan imigran. Padahal tabloid satir seperti Charlie Hebdo merupakan tradisi yang biasa di Eropa.

"Jika ada golongan (imigran muslim) yang tidak suka melihat ada media massa yang membuat lelucon soal agama, saya harus mengatakan, silakan minggat," imbuhnya.

Pilihan kata fuck off (minggat) yang dipakai politikus 53 tahun itu sangat kasar. Aboutaleb tiba di Belanda pertama kali pada 1976. Dia lalu bekerja sebagai wartawan, pindah menjadi pegawai negeri sipil Kota Rotterdam, lantas menjadi anggota Partai Buruh pada 2007.

Setahun berikutnya, Aboutaleb terpilih sebagai wali kota dengan program utama peningkatan ekonomi dan integrasi imigran. Dia adalah imigran muslim pertama yang berhasil menjadi pemimpin sebuah kota di Negeri Kincir Angin. (mrd)

 



Sponsors

Sponsors