Foto: Ivan Kaunang, berjaket hitam di samping kanan
HENK NGANTUNG MANTAN GUBERNUR DKI-JAKARTA PAHLAWAN PEJUANG DAN PELUKIS SEJARAH
Oleh: Ivan R.B Kaunang (Sejarawan, Budayawan, Akademisi Unsrat, Direktur Institut Kajian Budaya Minahasa)
Lima tahun terakhir ini ada fenomena positif yang berkembang pada sebagian generasi muda, baik melalui lembaga pemerintah maupun swasta dalam hal mengangkat kembali beberapa tokoh sebagai bagian dari ekspresi identitas lokal yang diberi ruang di era reformasi ini. Banyak daerkemudian berlomba-lomba untuk mengusung tokoh daerahnya untuk diusulkan menjadi pahlawan nasional.
Konsep pahlawan nasional sendiri bagi saya adalah konsep pemerintah. Namun bagi saya, seorang tokoh disebut pahlawan, selain memenuhi unsur-unsur keutamaan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan, tetapi juga bagaimana sikap masyarakat (daerah) pendukung tokoh itu. Apakah menerimanya sebagai pahlawan atau sebaliknya. Dapat saja pemerintah menolaknya tetapi masyarakat pendukungnya tetap menjadikannya sebagai pahlawan daerah. Dalam banyak hal untuk kasus Sulawesi Utara, tokoh dan pahlawan yang telah berjuang dan memberi diri bagi Nusa dan Bangsa ini tidak terhitung banyaknya, baik kelahiran dan perjuangannya di daerah lain, seperti perjuangannya di Jawa, Sumatera, di luar negeri ataupun di daerah sendiri, di Manado-Minahasa, Sulawesi Utara. Di satu sisi kita kalah dengan daerah lainnya pada persoalan penulisan sejarah hidupnya sehingga kita di daerah ini kurang mengetahui secara jelas kiprah suatu tokoh, padahal daerah ini gudangnya para pahlawan. Dalam perjalanan waktu, ada perasaan “kalah: dalam banyak hal secara nasional, seperti pembangunan dan perhatian pemerintah pusat di daerah ini, lalu dampaknya kemudian, mulai memunculkan memory-memory kolektif pada daerah ini (sukubangsa Minahasa misalnya), bagaimana orang-orang atau tokoh di daerah ini banyak berperan dalam pembentukan bangsa Indonesia sejak zaman perintis kemerdekaan, perjuangan kemerdekaan, bahkan sampai kekinian
Beberapa tokoh sudah diajukan dari daerah ini, mulai dari Mayor Jhon Lie, kemudian Lambertus Nicodemus Palar, Kolonel Alex Evert Kawilarang, Frans Mendur, Mayor Jenderal Hein Viktor Worang, dan sekarang diusung dua tokoh, yakni B.W Lapian dan Henk Ngantung. Ada juga tokoh lainnya pernah diseminarkan tetapi hanya sampai pada seminar, seperti Mr. A.A. Maramis, baik yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan, universitas di Jakarta maupun Manado, namun kemudian kandas. Selanjutnya Ds. W. Rumambi juga melalui satu komunitas kecil yang digagas oleh N. Gara, kemudian mulai terdengar A.A. Mononutu, dan entah siapa lagi berikutnya.
Tidak salah memang walau terlambat dan kurang informasi data untuk pengusungan tokoh dan pahlawan dari daerah ini, namun begitu semangat untuk tetap mempertahankan nilai-nilai perjuangan bangsa harus terus diwariskan kepada generasi berikutnya. Lembaga terkait, seperti Dinas Pendidikan dan Dinas Sosial, Perguruan Tinggi (jurusan Ilmu Sejarah) dan komunitas lainnya mendapat Pekerjaan Rumah (PR) untuk tugas yang tidak mudah ini ke depan.
Apa dan Siapa Henk Ngantung
Mengotak-atik internet kita akan menemukan situs Henk Ngantung yang sangat banyak dan hampir semua sumber isinya sama yakni bercerita biografi singkat Henk Ngantung. Beberapa sumber di antaranya merupakan turunan yang diolah sedemikian rupa dari hasil wawancara dengan Ibu Hetty Evelin Mamesah (Ibu Evie, Istri Henk Ngantung) dengan metode penceritaan, deskripsi yang disebut etnogafi jurnalistik atau jurnalisme sastrawi. Ada juga hasil-hasil diskusi beberapa komunitas seniman di Jakarta mengenang sosok Henk Ngantung dengan tema "Sang Seniman, Sang Gubernur" di halaman kediaman Henk Ngantung, Jalan Dewi Sartika, Gang Jambu, Jakarta Timur, pada Sabtu, 8 September 2012. Hadir dalam diskusi itu, di antaranya Tubagus Angke (Direktur Galeri Nasional Indonesia), Harry De Fretes, Aristides Katoppo (wartawan senior), Hetty Evelyn Ngantung Mamesah (istri Henk Ngantung), Alwi Shahab (wartawan senior), Gatot Prakosa (sutradara/seniman), dan Kamang Ngantung (putra Henk Ngantung).
Selanjutnya sumber yang cukup lengkap adalah buku yang ditulis semasa Henk Ngantung masih hidup yaitu “Sketsa-Sketsa Henk Ngantung dari Masa ke Masa” yang dirangkum/editorial Baharuddin, M.S bersama pelukis Nashar. Henk Ngantung sendiri akhirnya ikut juga mendampingi untuk memperlihatkan ribuan lukisannya, baik berupa sketsa maupun lukisan cat minyak, poster dan lainnya. Pilihan untuk akhirnya dibukukan adalah lukisan sketsa-sketsa dari ribuan banyaknya dan hanya dirangkum ratusan saja. Buku ini diterbitkan tahun 1980/1981 oleh Sinar Harapan. Isi buku tentang sejarah dan perkembangan kesenilukisan yang juga memberikan gambaran dokumentasi tentang sejarah kehidupan, perjalanan hidup pribadi Henk Ngantung semenjak mulai melukis di masa remaja dan keterlibatannya dalam berbagai peristiwa sosial dan terutama sejarah politik bangsa ini melalui sketsa sejarah.
Henk Ngantung mulai melukis sejak usia 14-15 tahun di kampungnya di Tomohon Minahasa, di mulai dengan menggunakan pensil, dan berangsur dengan menggunakan pena, kwas dengan tinta “cina” dan merekam berbagai peristiwa dalam lukisan sketsanya. Berbagai fenomena keseharian yang terjadi di sekelilingnya, yang dilihatnya berupa kehidupan sehari-hari direkamnya dalam sketsa, seperti lukisannya tentang Minahasa pada tahun 1935, yaitu yang berjudul “Orang Lewat” (21 x 26 cm); “Pulang dari Pasar Tomohon” (22 x 26 cm); “Ke Kebun di Tomohon” (19 x 20 cm); Tahun 1936 “Petani di Minahasa” 19 x 18 cm); Tahun 1937 “Teluk Manado di Lihat dari Tinoor; dan Pelabuhan Manado dilihat dari Bahu”.
Buku Sketsa dari Masa ke Masa; menunjukkan sketsa-sketsa zaman sejak masa remaja, masa pendudukan Jepang, Masa Perjuangan bagaimana peran pemuda dan militer Indonesia (1942-1945); Masa Kemerdekaan sampai perundingan-perundingan (1945-1949) dan berbagai peristiwa yang mengitarinya, termasuk sketsa-sketsa para pemimpin Indonesia waktu itu, tokoh-tokoh dunia, masalah-masalah umum dan sebagainya. Tidak hanya itu, kunjungan ke luar negeri sketsa-sketsanya juga bercerita, seperti beberapa sudut kota Roma tahun 1951 (monument Viktor Emmanuel II; Pesta Rakyat di Roma; Gereja Santo Petrus Vatikan, 1951; Perkampungan Rakyat di Kota Roma, 1951; Orkes Musik di sebuah Restoran di Jerman, dan masih banyak lagi negara yang dikunjunginya termasuk aspek yang unik yakni sketsa “Taufan di atas Kapal di Samudera Indonesia” (1951).
Buku lainnya yang juga banyak bercerita tentang Henk Ngantung tentang hasil-hasil karyanya, dan guru-guru seni lukisnya, termasuk pergaulannya yang dekat dengan Presiden Soekarno, adalah buku “Lekra Tidak Membakar Bukunya” (Yulianti dan Dahlan, 2008). Lewat berkesenian Henk Ngantung mampu memposisikan dirinya sebagai seorang pemimpin yang turut mendapat simpati dari Soekarno sehingga mengangkatnya sebagai Gubernur DKI Jakarta di tahun 1964 (Yulianti dan Dahlan, 2008: 290-292). Sumber sekunder lainnya beberapa majalah hasil reportase laporan utama wartawan, dengan judul “Henk Ngantung Yang ‘Terbuang’: Membangun Jakarta Indah dan Berseni, Hidup Melarat Hingga Akhir Hayat, Gubernur Jakarta Yang Terlupakan” dimuat dalam Majalah Gaharu edisi 1031 bulan November 2012 Tahun ke-10, hlm. 14-20; “Henk Ngantung Pelukis Yang Merekam Sejarah” dalam Majalah Mutiara Sulut, Edisi 02 Tahun II, 2009 hlm. 22-30.
Biografi Singkat Henk Ngantung
Henk Ngantung, nama lengkapnya Hendrick Joel Hermanus Ngantung. Walaupun berdarah Manado tetapi lahir di Bogor 1 Maret 1921. Meninggal di Jakarta pada 12 Desember 1991 pada umur 70 tahun. Ayah dan Ibunya berasal dari Tomohon-Minahasa.
Setelah menamatkan Sekolah Dasar Belanda di Tomohon, Henk kecil yang tidak lagi melanjutkan sekolahnya pada jenjang yang lebih tinggi karena orang tua tidak mampu membiayainya, kemudian secara otodidak belajar melukis. Cita-citanya memang ingin menjadi pelukis. Pada umur 15 tahun Henk sudah mampu membuat pameran lukisan di Tomohon, dari hasil penjualan lukisan di pameran itu, dan penjualan lukisan dari rumah ke rumah Henk mendapatkan modalnya untuk ke Pulau Jawa, dan sejak tahun 1937 menetap di Bandung.
Keluarga
Henk Ngantung menikah pada 28 Desember 1962 dengan Hetty Eveline Mamesah (Evie), seorang gadis Manado-Minahasa, kelahiran Tompaso, 12 Agustus 1939. Pernikahan mereka dikaruniai 4 orang anak yaitu Maya Ngantung, Genie Ngantung, Kamang Ngantung dan Karno Ngantung.
Karir Seniman Lukis
Sebelum menjadi Gubernur DKI Jakarta tahun 1964-65, Henk dikenal sebagai pelukis tanpa pendidikan formal. Di Bandung, Ia secara tekun belajar seni lukis kepada pada Prof. Rudolf Wenghart (Asal Wina-Austria). Henk mengagumi karya-karya seni El Greco (1541-1614) pelukis Spanyol keturunan Yunani, dan Picasso (1881-1973) pelukis Perancis kelahiran Spanyol. Lukisan Henk sendiri bergaya realisme.
Henk seorang yang pandai bergaul dan tak terbatas pada bidang seninya saja, Ia berkenalan dengan berbagai kalangan seniman dari berbagai aliran, seperti teater, film, musik, perupa, sastra dan sebagainya dan bergabung dengan berbagai organisasi kesenimanannya. Pada usia yang masih muda, di tahun 1937, Henk sudah bergabung dengan Persatuan Ahli Gambar Indonesia (PERSAGI 1937-1942) yang memperjuangkan corak Indonesia dengan semangat perjuangan nasional melepaskan cengkeraman dari penjajah.
Hasil karya Henk banyak digunakan sebagai dokumentasi nasional, seperti lukisan potret Gadjah Mada dan Husni Thamrin, selain sketsa-sketsa yang merekam peristiwa-peristiwa bersejarah menuju kemerdekaan. Beberapa karyanya antara lain, merekam berbagai peristiwa sejarah perjuangan zaman Jepang (romusha, dll) dalam bentuk sketsa, zaman perang kemerdekaan, tokoh-tokoh penting dalam sejarah Indonesia: Sri Sultan Hamengku Buwono, Bung Amir Syariffudin, di tahun 1946; Bung Karno dan kongres KRIS di Yogyakarta, 1946, Perjanjian Renvile, Peristiwa Linggarjati, Tokoh Bung Hatta dan van Mook, Sutan Syahrir, Soekarno, Moh. Roem, Natsir, Agus Salim, Leimena, Arnold Mononutu, L.N Palar dengan berbagai kegiatanya, dll. Termasuk berbagai fenomena alam, Waruga di Minahasa, dan kegiatan manusia Minahasa seperti Mapalus di Minahasa tahun 1950, dan sebagainya.
Karya seni lainnya sebagai buah tangannya, Henk juga merancang Tugu Selamat Datang yang menggambarkan sepasang pria dan wanita yang sedang melambaikan tangan yang berada di depan Bundaran Hotel Indonesia sekarang, dan Ide pembuatan patung ini berasal dari Presiden Soekarno yang ingin menjadikan kota Jakarta sebagai kota budaya dan berestetika, selanjutnya Logo pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada saat sebagai wakil Gubernur DKI, termasuk logo Kostrad.
Gubernur DKI
Sebelum menjadi Gubernur DKI, Henk banyak duduk dalam berbagai kepanitiaan dan Lembaga Negara. Dari sini, Henk banyak mendapat kesempatan ke luar negeri, seperti ke Eropa Barat dan Timur, Asia, Afrika, Amerika Serikat dan daerah lainnnya di nusantara (dan luar Jawa selain di Manado-Minahasa). Di banyak tempat yang dikunjunginya semua diabadikan dalam potret sketsa-sketsa lukisannya.
Tahun 1960-1964 tanpa terpikirkan oleh Henk, Ia kemudian diangkat Soekarno sebagai Wakil Gubernur DKI, dan kemudian menjadi Gubernur DKI sejak 27 Agustus 1964 hingga 16 Juli 1965. Pengangkatan Henk dengan satu keinginan Soekarno agar Henk menjadikan kota Jakarta sebagai kota yang berbudaya dan berestetika. Tanpa alasan yang jelas bersamaan dengan dengan munculnya Gerakan 30 September/PKI, Henk dilengserkan dari jabatannya. Walaupun jabatannya sangat singkat tetapi Henk telah bekerja keras menjadikan kota Jakarta yang indah dan menjadikan Tugu Selamat Datang sebagai salah satu landmark Jakarta sampai sekarang; menjadikan Jakarta sebagai kota yang beridentitas. Patung, Tugu, dan monumental lainnya merupakan sejarah bisu suatu kota.
Akhir Hayat dan Karyanya Yang Terakhir
Henk Ngantung tidak sekadar tinggal dalam kemiskinan hingga harus menjual rumah di pusat kota untuk pindah ke perkampungan. Derita Henk terus menerpa karena nyaris buta oleh serangan penyakit mata dan dianggap sebagai pengikut Partai Komunis Indonesia tanpa pernah disidang, dipenjara, beberapakali memang diinterogasi tetapi tidak menemukan kesalahannya dan tidak ditahan sampai akhir hayatnya di bulan Desember 1991. Henk Ngantung hingga akhir hayatnya tinggal di rumah kecil di gang sempit Cawang, Jakarta Timur.
Kesetiaan Henk dalam melukis terus berlanjut meski dia digerogoti penyakit jantung dan glaukoma yang membuat mata kanan buta dan mata kiri hanya berfungsi 30 persen. Pada akhir 1980-an, dia melukis dengan wajah nyaris melekat di kanvas dan harus dibantu kaca pembesar. Sebulan sebelum wafat, saat ia dalam keadaan sakit-sakitan, pengusaha Ciputra memberanikan diri mensponsori pameran pertama dan terakhir Henk dengan lukisan seorang Ibu dan Anaknya.
Henk Ngantung Menuju Pahlawan Nasional
Pahlawan! Siapa di antara kita yang mengatakan bahwa dia bukan pahlawan? Hanya tentu persoalannya adalah kriteria kepahlawanannya itu yang perlu kita siapkan secara bersama. Seminar Nasional kali ini merupakan salah satu bagian pentahapan dari sejumlah pentahapan yang harus dilalui. Pada akhirnya, jawaban politislah yang kemudian mengemuka, disisi lain pembagian kuepolitik pengangkatan tokoh dan pahlawan untuk setiap daerah, dan atau pemerintah berdalih dengan pembatasan dan anggaran negara untuk itu. Bagi kami pengusung jangan sampai ada kesan tercium seperti itu. Namun begitu, hal-hal seperti ini masih dapat diantisipasi jika panitia penggagas, Tim Pengkaji Pahlawan Daerah, Institusi, Lembaga dan komunitas tertentu bersama-sama dengan Dinas Sosial sebagai pemangku pengusung di daerah untuk dapat mempersiapkan sejumlah data dan sumber kearsipan yang menerangkan, menjelaskan keutamaan tokoh ini dengan perbuatan yang luarbiasa sebagai ukuran pahlawan di bangsa ini.
Persoalan nasionalisme tidak diragukan lagi, hanya saja perjuangannya tidak sama seperti perjuangan fisik bersenjata mesiu, menjadi laskar rakyat dan bertempur dalam medan laga. Perjuangannya ada dalam ranah mentalitas bangsa, merubah bangsa ini dari jiwa bangsanya, melalui jalur seniman, jalur kebudayaan untuk tidak tunduk dan terpengaruh dengan pihak asing. Bangsa ini harus dapat berdiri sendiri di atas kaki juangnya sendiri. Bahkan sampai akhir hayatnya kesetiaannya kepada bangsa ini tetap di sketsakan pada kanvasnya untuk Nusa dan Bangsa.
Bagi Henk Ngantung kebudayaan adalah jiwa bangsa. Hasil-hasil berkesenian dianggapnya sebagai penanda, alat perjuangan yang menentukan tingkat kemajuan, peradaban suatu bangsa. Sampai hari ini hasil-hasil karyanya masih tetap digunakan dan memperindah estetika ibukota negara, Jakarta. Hasil gemilang yang pernah dilakukannya, terbukti masih ada, yakni Hotel Indonesia (sebelumnya Hotel des Indes); Gedung Olahraga Bung Karno; Tugu Selamat Datang, dsb.
Dalam satu kesempatan dialog dengan Soekarno, di masa-masa krisis ekonomi Indonesia di tahun 1964, berkatalah Henk Ngantung: “Beras memang perlu tetapi batu juga bernilai”. Dari kalimat ini terasa sangat menggangu bagi Soekarno. Dalam satu kesempatan pidato politiknya Soekarno mengatakan “Revolusi juga adalah kebudayaan sebagaimana halnya juga politik”.
Catatan Akhir
Sesuai Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan, pasal 25, 26 untuk memperoleh gelar ada syarat umum dan khusus. Terdapat enam syarat umum. Pertama. warga negara Indonesia yang berjuang di wilayah NKRI. Kedua, memiliki integritas moral dan keteladanan. Ketiga, berjasa terhadap bangsa dan negara. Keempat, berkelakuan baik. Kelima, setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara. Keenam, tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang memperoleh kekuatan hukum paling singkat lima tahun penjara.
Selain itu, ada syarat khusus pertama, pernah memimpin, melakukan perjuangan bersenjata atau politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan. Kedua, tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan. Ketiga, melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya. Keempat, pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang menunjang pembangunan. Kelima, menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas. Keenam, memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi. Ketujuh, melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional.
Mengacu kepada UU No. 20/2009 tentang persyaratan sebagai pahlawan nasional. Apalagi yang kurang! Semua telah dipenuhinya, hanya persoalan prosedur administrasi yang sekarang ini sementara dilakukan (seminar nasional) salah satu yang harus dilalui Henk Ngantung.
Negara tidak punya dasar untuk tidak menerimanya sebagai pahlawan. Henk Ngantung adalah sosok pribadi yang berjiwa nasionalis yang tinggi, berani, jujur, setia kawan, taat beribadah dan percaya diri dalam segala sikap dan tindakannya. Persoalannya sekarang, bagaimana sikap kita, apakah tou Minahasa, warga Sulawesi Utara mau mengusung dan mengakuinya sebagai pahlawan.
I yayat u santi.



































