Bursa Caketum PAN Mengerucut
Saling Klaim Suara Sontak Tersaji
Jakarta, ME
Tensi tinggi jelang Kongres Partai Amanat Nasional (PAN) belum meredah. Bursa calon ketua umum PAN, kini mengerucut pada dua nama. Hatta Rajasa dan Zulkifli Hasan. Saling klaim dukungan pun sontak tersaji. Hatta disebut mendapat dukungan dari mayoritas pemilik suara di daerah. Sedangkan Zulkifli mengklaim dukungan dari anggota MPP dan DPP PAN. Termasuk Amien Rais, pendiri partai berlambang matahari biru ini. Namun, kondisi ini dinilai tak bisa dikonversi jadi pemantik api perpecahan internal partai.
Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PAN, Drajad Wibowo, mengakui hal tersebut. Tingkat kekeluargaan di internal partai diakuinya masih sangat kuat. Hingga pertarungan terbuka perebutan singasana Ketum, tidak akan membelah partai ini. "Persaingan itu wajar. Tapi kami partai besar dan solid. Kami akan berusaha sekeras mungkin, supaya PAN tetap utuh," ujar Drajad di Kompleks Parlemen, Selasa (27/1).
Tokoh yang juga bernaung di bawah payung Majelis Penyelesaian Sengketa (MPS) PAN ini, mengaku pihaknya akan melakukan berbagai cara agar kekeluargaan partainya tidak akan terkikis hanya karena persaingan menentukan pucuk pimpinan. Diantaranya dengan menampung semua aspirasi anggota partai, para pemilik suara, dan sebagainya. Berikutnya, peran MPS sebagai penengah bisa dimaksimalkan. "Saya yakin kita di MPS akan jadi penjaga gerbang terakhir supaya tidak akan ada perpecahan," jelasnya.
Terpisah, Wakil Sekretaris PAN, Rusli Halim juga mengakui beredarnya isu keretakan partainya, akibat persoalan caketum. Masalah yang belakangan menguat adalah tersiarnya kabar yang menyatakan tradisi partainya adalah, jabatan ketum hanya dipegang selama satu periode. Konsep ini dinilai jelas sebuah pemahaman yang salah. "Itu semua tidak benar. Seluruh kader pasti tau kalau aturan yang benar ada di anggran dasar dan anggaran rumah tangga(AD/ART)," ujarnya saat dihubungi.
Dalam AD/ART PAN, ditegaskan tidak ada poin yang melarang kader menjabat sebagai ketum lebih dari satu periode. "PAN partai modern dan demokratis, setiap kader harus tunduk kepada fatsun kolektif yang disebut AD/ART," kata Rusli.
Dalam hal ini, ia menilai wacana ketua umum satu periode bukanlah keteladanan di partainya. Namun hanya sebatas isu temporer dan strategi untuk memenangkan calon tertentu. "Memang benar dua ketum sebelum Pak Hatta semuanya satu periode. Tapi kurang tepat jika itu disebut tradisi apalagi keteladanan. Itu hanya isu dan strategi menantang calon incumbent. Dan bisa memperkeruh suasana partai. Tapi ini tetap akan cepat teratasi. Sekali lagi PAN partai solid," jelasnya.
Di sisi lain, regenerasi dianggap wajib hukumnya. Meski terlalu sempit cara berpikir jika regenerasi dimaknai sebatas pergantian ketum. Regenerasi disebut proses penyegaran dan penguatan. Lebih kepada sistem nilai yang dijabarkan dalam AD/ART dan program politik menghadapi Pemilu 2019 mendatang. "Yang bahaya itu Jika ketum terus berganti, tetapi peran, tanggung jawab, kewenangan tidak berpindah, apalagi dimandulkan oleh pendahulunya. Itu bukan regenerasi tapi degenerasi," ulasnya.
Sementara, Zulkifli Hasan, sebagai salah satu bakal calon terkuat mengaku saat ini sedang sibuk melakukan konsolidasi menghadapi kongres ke-4 PAN. "Menghadapi kongres PAN permainannya tidak mudah, karena itu harus disiapkan secara sungguh-sungguh," kata Ketua Majelis Permusyawartan Rakyat (MPR) ini di Gedung DPR RI.
Untuk membangun dukungan dari Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) PAN di seluruh Indonesia, diakui tidak cukup hanya membangun komunikasi secara formal. Trik-trik dan manuver dari hubungan personal juga perlu diakselerasi. Cara ini diakui sudah dibuktikannya dapat memberikan dampak positif. Dicontohkannya ketika bertarung di medan calon ketua MPR RI. Semula diprediksi bakal menelan kekalahan. Namun trik ini berhasil menggiringnya ke kursi pimpinan tertinggi MPR. "Jadi trik ini tetap akan saya pakai," ujarnya.
Soal klaim dukungan, Zulkifly masih belum mau berbicara banyak. Kicauan Ketua MPP PAN, Amien Rais, yang menyatakan, tradisi di PAN ketum hanya dijabat satu periode, diakui bukan merupakan dukungan secara implisit terhadapnya. Pernyataan itu hanya dimaknai sebagai imbauan kepada para kader PAN yang memiliki suara di kongres. "Kita lihat nanti sajalah, bagaimana perkembangannya," ujarnya.
Pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Siti Zuhro menilai, siapa yang akan menjadi ketum PAN, tergantung dari perilaku pemilik suara. Saat ini, dua kandidat calon ketum PAN, Hatta dan Zulkifli akan merebutkan kursi orang nomor satu. Untuk bisa menjadi nahkoda harus diadakan kajian lagi berdasarkan keinginan para pemilik suara. Dan akan lebih baik agar tidak membuat aklamasi jadi tradisi baru di pemilihan ketum partai politik. "Kan sebelumnya aklamasi, jadi baiknya ini jangan. Agar tidak dianggap tradisi," kata Siti.
Meski demikian, dalam konteks dua calon ketum PAN, popularitas Hatta diakui lebih tinggi dibanding Zulkifli Hasan. Meskipun, tidak sedikit pemilik suara di PAN yang berharap popularitas Zulkifli mampu menandingi Hatta. "Artinya kans Hatta Rajasa untuk terpilih cukup besar," imbuh Zuhro.
Namun kicauan Amien Rais yang bernada keberpihakan pada Zulkifli membuat pertarungan dua calon ketum semakin ketat. "Bisa jadi suara Amien belum tentu dominan dan sangat menentukan, tapi akselerasi dan manuver yang bisa saja di jalankannya tetap akan berpengaruh bagi seluru kader," tutupnya. (happy karundeng)



































