Foto: Koordinasi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyakit menular.
Hadang 'Teror' Hewan, Pemkab Minahasa Seriusi Masalah Zoonosis
Tondano, ME
Pemerintah Kabupaten Minahasa menggelar koordinasi dalam rangka pencegahan dan penanggulangan penyakit menular. Kegiatan tersebut diselenggarakan di kantor Bupati Minahasa, Jumat (13/2). Penyakit menular yang dimaksud khusus untuk masalah 'Zoonisis', yakni penyakit menular yang diakibatkan oleh hewan.
Acara tersebut turut menghadirkan pemerintah Kelurahan dan tokoh-tokoh masyarakat.
Asisten I Pemerintahan dan Kesra Drs. Denny Mangala menyampaikan bahwa kegiatan ini dimaksudkan agar masyarakat mendapatkan informasi. Masyrakat perlu mengetahui cara dalam menanggulangi penyakit ini. Ia berharap dengan adanya sosialisasi setidaknya masyarakat mempunyai pemahaman yang baru untuk diketahui.
"Kegiatan ini dibuat agar masyarakat mendapat informasi dan mengerti bagaimana menanggulangi penyakit ini yang disebabkan oleh gigitan anjing, kera, atau kucing," ungkap Mangala.
Baginya Kesehatan adalah hal penting dalam rangka juga pengembangan ekonomi sekarang ini. "Kesehatan adalah hal yang penting untuk pengembangan ekonomi sekarang ini, jika ada investor dari luar hal yang utama perlu perhatikan adalah kesehatan," jelas Mangala.
Dalam materinya, Dr Juliana Kaunang M.Kes, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Minahasa menjelaskan bahwa penyakit Zioonosis menyerang semua umur dan jenis kelamin.
Penyakit ini tidak hanya pada gigitan anjing, kera, kucing tapi juga hewan-hewan yang lain. "Zioonosis tidak hanya pada gigitan anjing, kera, kucing. Tapi juga, flu burung pada unggas, pes pada tikus, flu babi pada babi, kalau nyamuk hanya pengantara virus," terang Kaunang.
Paling berdampak di kabupaten ini bersumber dari anjing yaitu rabies dari virus LYSSA. "Virus pada Suhu 4 0C mampu bertahan hidup. Pemanasan 60 0C virus mati dalam waktu 5 menit. Dengan sinar ultra violet virus mati dengan cepat. Dengan pemanasan yang bagus makanan bisa dikonsumsi," paparnya.
Kaunang menyarankan agar anjing-anjing divaksin. Di setiap kelurahan atau desa perlu dibentuk komisi untuk pengendalian dampak penyakit. Pengendalian dilakukan agar terjadi pemutusan rantai rabies kepada hewan. "Ini Supaya anjing-anjing tidak dibunuh. Selain membunuh ada cara-cara yang lain, seperti buat peraturan di kelurahan. Anjing harus dikurung dan harus divaksin selalu," terangnya.
Ketika terjadi gigitan maka hal yang perlu dilakukan yakni digosok dengan deterjen, disiram dengan air selama 15 menit atau ditaruh dengan Lemon. "Semakin jauh dari kepala tidak terlalu beresiko. Gigitan di atas bahu langsung diberikan vaksin. Masa berlangsung penyakit 2-8 Minggu. Anjing inkubasi terpanjang 2 tahun. Kasus yang terjadi di indonesia kasusnya 2-3 bulan," katanya.
Seseorang yang punya daya tahan bagus, inkubasinya agak lama. Bagi yang terkena rabies memiliki empat stadium. "Kalau sudah di stadium tiga, geraknya akan seperti anjing," jelas Kaunang. (arfin tompodung)



































