Makna Historis dan Filosofis Dibalik Perayaan Imlek
“Semangat Untuk Memulai Kehidupan Baru”
Laporan : Happy Karundeng
‘Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya’. Penggalan kalimat itu dianggap mendasari pola pikir para Tionghoa penganut Konghucu. Sejumlah tradisi teologis masih dipegang penganut agama yang satu ini. Salah satunya perayaan Imlek.
Tiongkok memang dianggap sebagai tanah yang penuh dengan sejarah. Tanah ini pun begitu ketat menjaga tradisi-tradisi warisan leluhur. Di tengah kemegahan kembang api dan lampion merah, ternyata perayaan ini menyimpan makna historis dan filosofis yang dalam bagi Tionghoa penganut agama Konghucu.
Banyak cerita berkembang tentang sejarah perayaan tahun baru ini. Mitos pun bermunculan menutupi fakta sejarah. Antara lain berkembangnya cerita rakyat tentang penghusiran mahluk jahat yang disebut Nian.
Budayawan Tionghoa-Minahasa, Sofyan Jimmy Yosadi, kepada Media Sulut membenarkan hal tersebut. Banyak mitos dan cerita rakyat yang berkembang dan dibawa selama ratusan bahkan ribuan tahun. Salah satunya mitos tentang Nian.“Cerita tentang Nian itu, mitos belaka,” tegas Yosadi. “Apalagi yang berkaitan dengan hujan. Itu semua tidak benar. Tidak ada kaitannya sama sekali. Kalau hujan datang pas Imlek, Itu fenomena alam saja. Seperti cerita lain tentang Nian, pasang merchon, lampion merah, semua salah kaprah. Itu cuma cerita rakyat berujung mitologi yang dibawa ratusan bahkan ribuan tahun,” jelasnya.
Makna dibalik perayaan Imlek diakui lebih dalam dari cerita rakyat itu. Imlek adalah hari raya keagamaan yang memang dijadwalkan menurut ajaran Konghucu. Makna sebenarnya lebih ke ritual keagamaan. Begitu juga perhitungan tahun baru. Tahun baru Imlek diakui mengikuti kelahiran tahun kelahiran Konfusius. “Itu lebih ke ritual keagamaan,” tegasnya. “Ritualnya itu satu hari sebelum Imlek, Tionghoa diwajibkan sembayang leluhur di rumah masing-masing. Dan malamnya wajib datang ke klenteng-klenteng untuk sembayang,” jelasnya.
Ritualnya akan dilengkapi saat puncak perayaan tahun baru. Dimana para orang akan saling mengunjungi rumah untuk pererat tali persaudaraan. “Makna filosofinya adalah semangat untuk memulai kehidupan yang baru,” ungkap Yosadi. “Lewat perayaan Imlek, ada satu harapan.Selain itu, perayaan Imlek adalah perintah agama sebagai wujud lakubhakti dasar agama konghucu,” sambungnya.
Imlek ditegaskan adalah perayaan keagamaan Konghucu, bukan perayaan etnis. Banyak warga Tiongkok diakui tidak menganut agama Konghucu.
“Perlu dijelaskan juga, Imlek bukan perayan etnis tionghoa, itu perayaan keagamaan konghucu,” tutup Yosadi. (***)



































