ISIS Cengkram Asia

Agenda Negara Islam Nusantara Menyeruak


Jakarta, ME

Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) sasar Indonesia. Stok bom bunuh diri dikumpulkan di wilayah nusantara. Gerakan itu beriringan dengan usaha ISIS menancapkan kukunya di wilayah Asia. Gayung bersambut. Kelompok radikal di negeri ini intens konsolidasi. Mantapkan agenda Negara Islam Nusantara untuk bergabung bersama Negara Islam Irak dan Suriah.

Masyarakat Indonesia menerima rangkaian teror melalui pesan pendek pada telepon seluler dari orang yang mengaku anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) dalam beberapa hari belakangan ini.

Berbagai ancaman dilayangkan pelaku teror yang mengaku berasal dari Lampung Timur itu. Dari ledakan pesawat di Bandar Udara Soekarno-Hatta hingga ancaman pembunuhan terhadap Presiden Joko Widodo.

Teror dimulai sejak menyebarnya pesan berantai dari nomor 085758905xxx pada Rabu (18/3), yang berisi pesan: “Pesawat Lufthansa rute jakarta-berlin tergelincir saat take off di Bandara Soetta pukul 10.25 diperkiraan semua tewas. Pak Nur Rakhman, Pegawai Atc Soetta 085758905xxx.”

Namun, setelah ditelusuri, informasi itu tidak benar. "Info itu kacau, tidak jelas sumbernya," ujar Manajer Humas dan Protokol Bandara Soekarno-Hatta Yudis Tiawan. Yudis juga memastikan informasi tersebut tidak benar.

Pengguna nomor itu menyebarkan pesan pendek bertubi-tubi dengan nada penuh ancaman. Isinya, antara lain, "Semua kepolisian mau kami habisi. Tinggal tunggu waktu. Kami anggota ISIS sudah sakit hati... juga Jokowi harus mati."

Pesan lainnya seperti ini: "Kami tidak main2. Kami ISIS, akan menghancurkan polri, jaksa agung dan presiden kurus. Telah memvonis bahwa narkoba perusak generasi, padahal narkoba ini membuat orang bersemangat, kalau orang mau mati ya mati dong bukan narkobanya. Juga ISIS, kami telah di jelek2n bahwa kami pemberontak, tapi kami hanya merekrut untuk bekerja sama, toh mereka kami gaji. Seolah2 kalian paling benar. Liat tuh pengeruk uang rakyat, kok nyantai aja."

Pesan selanjutnya: "Kami telah instruksi anggota kami untuk bersiap2 menghancurkan kalian. Kami dari lampung timur, markas kami di sumur kucing lampung timur."


LIMA TERDUGA ANGGOTA ISIS DITANGKAP

Beredarnya SMS teror atas nama ISIS, memantik reaksi aparat keamanan. Sejumlah operasi pun digulir. Sabtu (21/3) malam, lima orang yang diduga memiliki peranan terhadap kelompok radikal ISIS, ditangkap Polisi.

Kelimanya ditangkap di empat tempat berbeda, yakni Cisauk (Kabupaten Tangerang), Petukangan (Jakarta Selatan), Tambun (Kabupaten Bekasi), dan Gunung Putri (Bogor).

"Tersangka atas nama MF (M Fachri), AP alias M (Aprianul), J alias EK (Engkos Koswara), AM (Amin Mude), dan F (Furqon). Hari ini (Minggu kemarin, red) kita juga melakukan penggeledahan di semua tempat itu," kata Kapolda Metro Jaya, Inspektur Jenderal Polisi Unggung Cahyono, Minggu (22/3).

Kelima tersangka memiliki peran yang berbeda-beda. Seperti Amin yang diduga menjadi fasilitator dan mendanai para warga negara Indonesia (WNI) yang ingin bergabung dengan ISIS.

Dari penggeledahan yang dilakukan di rumah Amin, Legenda Wisata, Gunung Putri, Bogor, juga didapatkan beberapa dokumen seperti paspor yang baru saja dibuat.

Koswara merupakan perekrut atau pihak yang mencari calon-calon baru anggota ISIS dari Indonesia. Di kediamannya, Tambun Selatan, Koswara disebut sebagai sosok tertutup.

Bahkan untuk menegur sesama tetangga pun dinilai jarang. "Dia mah memang enggak ngobrol sama kita-kita. Saya tahunya kalau dia tinggal sekeluarga sama istri dan dua anak kembar, Faiz dan Faizal. Kalau dari obrolan warga, Pak Koswara cuma tahunya kerja di Jakarta. Di mananya enggak tahu deh," tutur Lily, warga sekitar.

Tersangka lain, M Fachri, berperan membina, mengarahkan, sekaligus merekrut simpatisan ISIS di Indonesia. Bahkan Fachri juga mengurus pengumpulan serta penyaluran dana untuk kegiatan sukarelawan ISIS dan membuat berita-berita berbau agama dan SARA.

"Tersangka juga pemilik website www.almustaqbal.net. Yang bersangkutan juga pernah buat dan upload video pelatihan anak oleh ISIS di Youtube," beber Unggung.

Fachri dikenakan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Pemberantasan Terorisme, Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pendanaan Terorisme, dan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik serta makar.

Sedangkan empat tersangka selain Fachri hanya dikenakan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 dan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2013.
Mereka diduga terlibat memberangkatkan 16 WNI yang tertangkap di Turki dan keberangkatan 21 WNI yang sudah tergabung dengan ISIS.


ISIS DIPERKIRAKAN BAKAL KUASAI ASIA

Jaringan teroris ISIS berniat menguasai Asia dalam proyek jangka panjang mereka. Data itu diungkap mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara, Asad Said Ali. Sejak dibentuk pada 2014, ISIS terus mengembangkan sayapnya ke wilayah-wilayah Afrika.

"Target dia dalam dua tahun pertama ini adalah mau menguasai Timur Tengah, Afganistan, Iran, Turki, dan Afrika Barat termasuk Maroko," jelas Asad dalam diskusi "Dari Trisakti Melalui Nawacita Menuju Revolusi Mental" yang diselenggarakan Lembaga Pemilih Indonesia di Jakarta, Minggu (22/3).

Adapun target lima tahun ISIS adalah menguasai wilayah Asia. Termasuk Asia Selatan, Asia Tengah, hingga Asia Tenggara.

Target itu tak main-main. ISIS sudah memiliki kantong-kantong pendukung di Indonesia yang tergabung dalam Jemaah Ansharut Daulah. Jemaah ini terdiri dari beberapa faksi seperti Jemaah Ansharut Tauhid pimpinan Abu Bakar Baasyir. "Tapi anak buahnya yang ikut, bukan Baasyir," terang Asad.

Selain itu, kelompok Mujahidin Indonesia Timur pimpinan Santoso, dan kelompok Al Mujahirun yang merupakan sempalan dari kelompok Hizbut Tahrir. "Ini mereka sudah menyatakan bakal bergabung dalam khalifah ISIS," ungkap Asad.

Tak hanya itu, kelompok-kelompok radikal di Indonesia itu bakal menyatukan visi-misi dan konsolidasi. Rencananya, mereka bakal membentuk Negara Islam Nusantara yang meliputi Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand bagian selatan. "Negara Islam Nusantara ini bakal bergabung dengan ISIS. Pemimpin NIS ini Bahrul Syah dari Malaysia," paparnya.


ISIS MASUK INDONESIA, WASPADAI TEROR BOM BUNUH DIRI

Teror terbesar yang terjadi bila ISIS masuk Indonesia adalah bom bunuh diri. Hal itu diungkapkan mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara, Asad Ali.
"Kita sudah punya pengalaman dengan bom Bali jilid I dan II, bom Marriot, bom Natal. Ini tidak main-main," kata Asad.

Tujuan akhir ISIS mendirikan negara khilafah. Sebelumnya mereka menyasar pihak asing juga aparat keamanan. Menargetkan pihak asing,  adalah propaganda ISIS untuk menarik simpati masyarakat dengan menjadikan Barat sebagai musuh bersama. Selanjutnya, aparat keamanan seperti polisi dan intelijen menjadi sasaran ISIS karena berusaha memberangus kelompok militan tersebut.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Saud Usman Nasution mengatakan, kesadisan ISIS di Suriah seharusnya cukup menjadi bukti urgennya masalah ini untuk segera diatasi. Motif utama ISIS bukanlah ideologi namun dendam karena kesenjangan sosial dan ekonomi. "Bila masuk ke sini, dendam mereka akan dituntaskan," tandas Saud.

Target ISIS adalah siapa saja yang tidak sesuai dengan akidah mereka. Semua golongan masyarakat, bahkan ulama yang bertentangan dengan paham ISIS akan disebut kafir dan dianggap musuh. ISIS pun hendak merekrut sebanyak-banyaknya pendukung termasuk wanita dan anak-anak. "Perekrutan lewat sosial media adalah sarana utama mereka, termasuk dialog agama dan pengajian."


ADA 100 WNI SIAP JADI PEMBOM BUNUH DIRI

Warga Indonesia yang bergabung dengan ISIS hanya berperan sebagai pion. Tugas utama mereka menjadi martir bom bunuh diri. Penjelasan itu dilontarkan mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara, Asad Ali. "Jumlah yang menyatakan siap menjadi martir mendekati seratus," beber Asad di Jakarta, Minggu (22/3).

Warga negara Indonesia tidak mungkin mendapat kedudukan tinggi dalam kelompok ISIS yang dipimpin oleh Abu Bakar Al-Baghdadi. Itu lantaran statusnya hanya tamu. Belum lagi, orang Indonesia tidak mungkin menguasai bahasa setempat sehingga kesulitan berkomunikasi. "Kapasitas WNI di sana adalah pengikut, tidak mungkin jadi komandan."

Perekrutan simpatisan ISIS di Indonesia diinisiasi beberapa kelompok. Asad menyebutkan kelompok inti pendukung ISIS adalah Jamaah Anshorut Tauhid dan Tauhid Wal Jihad. Selain itu juga ada kelompok Mujahidin Indonesia Barat, Mujahidin Indonesia Timur, dan Al Mujahirun yang merupakan fraksi radikal dari Hizbut Tahrir Indonesia.

Walau tidak menjadi komandan, tetap saja banyak warga Indonesia yang tergoda untuk bergabung dengan kelompok militan itu. Motif utamanya diduga adalah ideologi. "Mendengar ada negara khilafah di Suriah, banyak warga Indonesia yang tergerak untuk ke sana."

Namun, Kepala Badan Penanggulangan Terorisme, Saud Usman Nasution, tak sepakat dengan Asad. Ideologi, ujar Saud, memang salah satu motif. Namun, alasan yang lebih besar adalah dendam karena kesenjangan sosial dan ekonomi. Berkat propaganda tersebut, Saud menyebut ada lebih dari 10 kelompok di Indonesia yang menyatakan dukungan pada ISIS.

Di dalam negeri, mereka membantu proses rekrutmen orang untuk dikirim ke Suriah, menyebarkan propaganda ISIS, serta menggalang bantuan keuangan. Media sosial sebagai sarana penyebaran paham ini. Di antara kelompok yang telah menyatakan dukungan pada ISIS adalah JAT atau Mujahidin Indonesia Barat yang dipimpin Abu Bakar Baasyir.

Kelompok Mujahidin Indonesia Timur yang dipimpin oleh Santoso juga telah berbaiat pada ISIS. Lebih banyak lagi kelompok yang telah berbaiat pada ISIS. "Buktinya ada unjuk rasa pendukung ISIS di Bundaran Hotel Indonesia pada September lalu," kata Saud. "Mereka merupakan gabungan sejumlah kelompok."


ANTISIPASI ISIS, BNPT DESAK REVISI ATURAN ORMAS

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Saud Usman Nasution mendesak agar aturan tentang kebebasan berpendapat dan keormasan segera direvisi. Dua beleid tersebut, menurut Saud, memberi peluang berkembangnya paham kelompok militan ISIS di Indonesia.

"Kedua aturan tersebut perlu dievaluasi karena tak ada sanksi jelas," tegas Saud dalam diskusi tentang radikalisme di Jakarta Pusat, Minggu (22/3).

Saud mencontohkan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kebebasan Berpendapat yang membebaskan semua orang bicara apa saja tanpa batasan. Bila ada yang menghambat aspirasi tersebut, justru diberi sanksi. "Misalnya ada orang yang ngomong dia ISIS, kita tak bisa beri sanksi karena ada undang-undang yang menjamin," ujar Saud.

Begitu pula dengan aturan keormasan. Menurut Saud, pemerintah hanya mengatur ormas yang terdaftar. Bila di antara ormas yang terdaftar itu ada yang melanggar aturan, sanksinya hanya pencabutan izin. "Bagaimana dengan ormas yang tak terdaftar?" tanya Saud. "Bahkan tak ada sanksi untuk mereka."

Revisi beleid tersebut, harus segera dilakukan agar aparat punya pegangan hukum yang kuat untuk menjerat warga Indonesia yang terindikasi menjadi pendukung ISIS. Saud mendesak anggota Dewan Perwakilan Daerah yang turut hadir dalam diskusi untuk segera mewujudkan aspirasi tersebut.

Anggota Komite I DPD RI asal Sulawesi Selatan, Iqbal Parewangi, mengatakan reaksi terhadap ancaman radikalisme ISIS berlebihan. Menurut dia, respons terhadap ISIS menggambarkan sikap paranoid. "Kita bangsa besar, jangan mau diposisikan begitu lemah oleh ISIS," ketus Iqbal.

Iqbal bahkan menyebut isu ISIS kemungkinan hanya diembuskan untuk mengalihkan perhatian masyarakat.

Teror ISIS makin meluas setelah terungkap banyak WNI yang bergabung dengan kelompok tersebut. Modusnya bermacam-macam, mulai dari menumpang paket tur wisata, sekolah, hingga umrah. (tmp/mrd/trb)



Sponsors

Sponsors