Polisi Radar Gerak Teroris Poso di Bolmong

Militan Asing Perkuat ISIS Sulteng


Manado, ME

Gerak Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) semakin berkembang di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng). Militan dari berbagai penjuru nusantara telah bergabung. Bahkan ratusan warga asing terendus telah bergerilya bersama ISIS Poso. Sulawesi Utara rawan. Tanda awas dilayangkan pemerintah pusat ke pemerintah daerah.
 
Sejumlah warga asing dipastikan telah bergabung bersama kelompok teroris Santoso Abu Wardah, di Poso. Aksi teror semakin menghantui penduduk negeri. “Jangan sampai 128 warga asing di Poso mengganggu kita. Jangan sampai orang asing senaknya membuat kekacauan di Indonesia dan warga negara kita yang menderita,” ungkap Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Cahyo Kumolo, kepada Manado Express di Sorong baru-baru ini.
 
Gerakan ISIS di Poso digerakkan dari balik jeruji di Pulau Nusakambangan. “Mereka diperintah dari Nusakambangan (Lembaga Pemasayarakatan Nusakambangan). Kalau tidak bisa berjihad di Suriah, diminta berjihad di Poso,” bebernya.
 
Pemerintah kini serius untuk memberantas Santoso cs. TNI dan Polri kini berkolaborasi untuk menegaskan hasrat tersebut. “Pemerintah berkomitmen memberantas teroris di Indonesia. Sudah diperintahkan Polisi dan TNI memberantas mereka. TNI dan Polisi terus melatih pasukan untuk menumpas kelompok teroris di Poso,” aku Mendagri.
 
Peneliti terorisme yang kini juga meneliti jaringan ISIS di tanah air, Ridlwan Habib mengungkap, ada empat kelompok pergerakan ISIS di tanah air. Kelompok pertama berasal dari jamaah Amanium atau anggota kelompok pengajian Ustaz Aman Abdurahman. Meski Ustaz Aman hingga kini menghuni Lapas Kembang Kuning, Nusakambangan, ia memiliki jamaah yang terus bertambah jumlahnya.

Ustaz Aman adalah terpidana kasus terorisme terkait Bom Cimanggis tahun 2003 dan kasus terorisme di Aceh tahun 2010. Jamaah Amanium hingga kini terus bertambah karena kader Ustaz Aman terus bergerak aktif.

"Ustaz Aman itu sangat terkenal di kelompoknya. Ia bukan veteran perang Afghanistan. Ia malah belum pernah terjun berperang di Timur Tengah. Ia begitu terkenal karena sangat jago bahasa Arab. Ia bisa menerjemahkan bahasa-bahasa arab yang sulit ke dalam bahasa Indonesia yang sangat mudah dipahami sehingga ajarannya banyak disukai jamaahnya," terang Ridlwan.

Kelompok kedua yakni berasal eks pengikut Darul Islam di tanah air atau NII. Sedangkan kelompok ketiga adalah pengikut Ustaz Abu Bakar Baasyir. Pengikut Baasyir ini kerap dijuluki Jamaah Islamiah (JI) yang selama ini di tanah air dikenal karena aktif melakukan gerakan terorisme.

Baasyir telah berbaiat ke ISIS ketika ia menghuni Lapas di Nusakambangan. "Di Nusakambangan ada Ustaz Aman juga yang lebih dulu berbaiat ke ISIS," lanjut Ridlwan.

Kelompok terakhir adalah Forum Aktifis Syariat Islam (FAKSI) yang dipimpin M Fahri. Fahri kini telah ditangkap Densus 88. Kelompok M Fahri ini bergerak melalui dunia maya. "Mereka mencekoki orang dengan paham ISIS melalui facebook, sosial media dan situs-situs yang didirikan Fahri bersamakelompoknya. Targetnya adalah anak muda yang sedang senang-senangnya belajar agama," jelas Ridlwan.
 
 
POLISI WASPADA DI BOLMONG RAYA

Wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR) rawan dimasuki kelompok ISIS Poso. Mengantisipasi adanya pergerakan teroris di wilayah hukumnya yang tersebar di empat Kabupaten dan satu Kota, Kepolisian Resort (Polres) Bolaang Mongondow (Bolmong) melakukan berbagai hal. Mulai dari pemetaan wilayah rawan konflik hingga jalur pelarian teroris.

Kepala Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Bolmong, AKP Iverson Manossoh SH mengatakan, untuk jalur pelarian serta berkembangnya teroris, pihaknya telah memetakan wilayah di seluruh BMR. Namun, memerangi teroris ini sangat dibutuhkan peran aktif dari semua elemen masyarakat.

“Semua masyarakat di BMR tolak teroris maka negara juga kita aman,” ungkap Iver, Rabu (25/3).

Pencegahan masuknya teroris di Bolmong Raya, dilihat dari segi geografis, yang berdekatan dengan Poso. Ketika teroris di Poso berhasil dibubarkan, maka jalur pelairannya akan mengarah ke Sulawesi Utara.

“Semua potensi meski kecil kemungkinannya, kita harus sigap dalam mengantisipasinya. Jangan sampai sudah berkembang baru kita repot-repot menanganinya,” tambah Iver.

Seluruh Pemerintah Daerah (Pemda) yang ada di BMR, kiranya bisa mengaktifkan kembali keamanan di setiap Desa, Kelurahan dan Kecamatan.

“Poskamling, ronda malam, bisa sangat membantu dalam pencegahan masuknya teroris. Terlebih jika ada pendatang baru, dan gelagaknya mencurigakan diharap masyarakat bisa segera melaporkannya di kantor Polisi terdekat,” tandas Iver.

Peran penting masyarakat sebagai langkah antisipatif untuk mencegah masuknya ISIS ke wilayah Nyiur Melambai, ditegaskan Wakapolda Sulut, Kombes Pol Charles Ngili.

“Saat ini langkah awal Polda dan jajaran adalah memasang spanduk atau pamflet di tempat  umum dengan isi himbauan untuk waspada dan memerangi ISIS,” jelas Ngili.
 
 
PEMPROV SULUT SERIUSI ANCAMAN ISIS

Isu ISIS juga mendapat atensi dari Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulut. Organisasi radikal itu dinilai rawan menyusup ke Bumi Nyiur Melambai. Mengingat Sulut merupakan wilayah perbatasan. Apalagi ISIS disebut-sebut berkaitan dengan teroris Poso.

“ISIS jadi perhatian utama dari pemerintah. Paham ISIS harus kita cegah bersama. Seluruh komponen masyarakat Sulut harus memiliki persepsi yang sama dan kebulatan tekad untuk mencegah masuknya ISIS di daerah kita,” lugas Wakil Gubernur Sulut, Dr Djouhari Kansil.

“Sulut memang rentan akan masuknya teroris. Mengingat kita adalah daerah perbatasan. Jadi penjagaan harus lebih ketat,” sambung salah satu putra terbaik Nusa Utara itu.

Upaya antisipasi terhadap teroris telah dilakukan Pemprov bersama segenap jajaran aparat keamanan, baik TNI/Polri, BIN serta stakeholder terkait lainnya. “Tapi kini akan lebih diperketat lagi dengan merebaknya paham ISIS. Pemprov akan melakukan apel bersama dengan TNI/Polri, BIN, kesbang, LSM, pemuda, mahasiswa dan tokoh agama dan masyarakat se-Sulut,” terang Kansil.

Seluruh pemerintah Kabupaten/Kota hingga ke desa/kelurahan diajak untuk meningkatkan kewaspadaan. Salah satunya dengan mengoptimalkan siskamling serta program tamu wajib lapor. “Warga juga harus pro aktif. Jika mendapati ada tamu atau pengunjung yang tidak dikenal atau mencurigakan segera melapor ke aparat pemerintah setempat,” pintanya.

Dikhawatirkan, jika ada warga Sulut yang terpengaruh dengan paham ISIS, maka itu akan berdampak pada stabilitas daerah. “Yang akan rugi juga daerah kita. Jadi sekali lagi, kita semua harus seiya sekata untuk melakukan pencegahan dan penangkalan masuknya jaringan maupun paham ISIS di Sulut. Sebab itu merupakan aliran radikal yang dilarang di Indonesia dan dunia,” tandasnya.
 

MENDAGRI MINTA PEMDA WASPADA

Mendagri Tjahjo Kumolo, menyerukan kepada seluruh jajaran Pemerintah Daerah (Pemda) di Tanah Air untuk waspada terhadap masuknya oknum atau kelompok radikal seperti ISIS di wilayahnya masing-masing.

"Saya meminta kepada seluruh Pemda untuk mencermati setiap perkembangan dan dinamika yang terjadi di daerah," ujarnya, Rabu (25/3).

Ada beberapa wilayah perbatasan yang rawan menjadi pintu masuk bagi para kelompok radikal itu. Daerah tersebut adalah Kepulauan Riau, Entikong, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Papua, serta Nusa Tenggara Timur.

Ia mengklaim mengantongi data soal zona merah yang rentan dipilih kelompok radikal untuk bertempat tinggal. Daerah tersebut antara lain Tangerang Selatan, Bekasi, Solo, serta Karanganyar, Jawa Tengah. Area itu perlu diawasi lebih ketat, baik oleh Polri, TNI dan intelijen.

Mendagri juga meminta agar kepala daerah sampai tingkat terbawah yakni Ketua RT melakukan deteksi dini. Hal itu dilakukan agar jika ada warga yang mencurigakan bisa segera diketahui.

"Masyarakat, termasuk pers kalau mendengar ceramah sesat atau propaganda di area merah tadi atau di mana saja, silakan laporkan."
 
 
RIBUAN TENTARA LATIHAN PERANG DI POSO

Tentara Nasional Indonesia segera menggelar latihan gabungan di Poso, Sulteng. Lantaran melibatkan banyak pasukan dan risiko peluru nyasar, beredar isu jika warga akan diungsikan selama 15 hari.

Kabar itu pun membuat warga khawatir karena harus meninggalkan rumah mereka dalam waktu yang lama.
 
Menanggapi isu ini, Komandan Kodim 1307 Poso, Letkol Infantri Eron Firmansyah, membantahnya. Diakui, latihan gabungan yang akan melibatkan tiga marka tersebut sudah dalam persiapan yang matang.
 
"Latihan akan berlangsung mulai tanggal 30 hingga 31 Maret. Itu ada beberapa tahapan, mungkin sekitar daerah Tamanjeka, Uweralulu dan Sipatuwo. Itu desas-desusnya warga akan turun selama 15 hari. Itu tidak benar," kata Eron.
 
Warga diungsikan tidak lebih dari 16 jam. "Hanya satu hari saja. Setelah penembakan, besoknya warga bisa kembali lagi ke rumah mereka masing-masing. Kami mengamankan masyarakat sementara, karena tidak menutup kemungkinan kan peluru itu tepat sasaran, apalagi jika ditembakkan dari pesawat udara. Jadi kita mengamankan masyarakat itu juga untuk turun sementara," aku dia.
 
Pada saat diungsikan, warga nantinya akan diberikan bantuan sosial yang dipusatkan di Desa Tabalu.
 
Sebelumnya, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mempertanyakan kegiatan latihan operasi militer di Poso, Sulteng, yang salah satu tujuannya diduga untuk memburu kelompok teroris jaringan Santoso.
 
Ribuan personel TNI yang ikut latihan gabungan tersebut terdiri dari Kopassus (AD), Marinir - Kopaska (AL) dan Paskhas (AU) yang dikerahkan dalam latihan operasi militer yang tergabung dalam Pasukan Pemukul Reaksi Cepat (PPRC). (tim me/viv/trb/kom)



Sponsors

Sponsors