Foto: Opa Albert bersama tempat tidurnya di luar ruangan.
Albert Tetap Memilih Tinggal di RSU Tondano
Sudah di Anjurkan Dokter Untuk Pulang
Tondano, ME
Ada hal unik di Rumah Sakit Umum (RSU) Samratulangi Tondano. Seorang pria yang sudah 2 bulan di Rumah Sakit tidak mau lagi kembali kerumahnya. Padahal sudah dimintakan dokter untuk pulang.
Albert Solang (81) nama dari opa ini, warga desa Ranomeruut Kecamatan Eris. Dari pantauan manadoexpress.co, Jumat (15/5), Albert berada di luar ruangan pasien, bersama tempat tidurnya. Selama itu opa tidak pernah beranjak dari situ.
Menurut keterangan yang diperoleh, Albert dikeluarkan dari dalam ruangan karena sudah menganggu ketenangan pasien lain. Kadangkala dia bertengkar dengan beberapa pasien yang ada didalam ruangan.
Ali, salah seorang yang dirawat sekamar dengannya merasa resah melihat tingkah lakunya. Dikatakan Ali, Albert sangat jorok. Sering membuang ludah sembarangan dan muntah. "Kita kan pasien juga yang ingin sembuh, jadi kita juga berharap kenyamanan," ucap Ali.
Dari pihak rumah sakit menjelaskan, Albert pertama kali masuk tanggal 7 Maret 2015. Saat itu ia datang sendiri dengan keluhan sakit perut, yang menurutnya mungkin karena maag. Kemudian opa Albert menjalani perawatan hingga tanggal 10 Maret. Saat Dokter sudah anjurkan pulang dengan syarat rawat jalan, Albert tidak mau.
"Kita bilang pa opa so bole pulang, mar dia bilang 'kiapa dokter pe rumah saki so ini, biar jo kita mati di sini'. Torang ada kase di luar pa dia karna so menganggu. Pernah pasien laeng tegur kong dia simpang akang selop," kata Kepala Bidang Medis, Dr Ellen Ratu MSi.
"Kalu dia nyanda menggangu kenyamanan kwa, biar dia lama-lama disini torang kase di dalam," tambahnya.
Dari Rumah sakit pun telah berusaha menghubungi keluarganya dan pemerintah di Ranomerut. Ternyata Albert, mempunyai dua orang anak tetapi mengalami gangguan jiwa. Salah seorang cucunya, warga Kiniar, sudah datang agar membawanya pulang tapi ia tetap menolak.
"Waktu ada tanya mo pulang, tu opa cuma bilang mo tunggu keluarga jemput, mar sampe skarang nda pernah pulang. Dia cuma bilang besok. Sampe skarang dia bilang bagitu," ucap Jantje J Lalamentik SKep, Kepala Ruangan Penyakit Dalam.
Lalamentik mengungkapkan, ia telah minta bantuan ke bagian manajemen sampai direktur. Mereka telah menginstruksikan agar memohon dari Polisi Sektor (Polsek) Eris dan Hukum Tua Ranomerut. Dikatakan Lalamentik, dirinya juga telah menyurat ke Dinas Sosial. Sehingga, pada tanggal 11 Mei 2015 bersama-sama dengan polisi, mereka pergi menghadap ke pihak keluarganya dan pemerintah di Ranomeruut.
"Tu waktu itu torang ada pigi Kumtua (Hukum Tua) nda ada, karna pas pelantikan kumtua baru. Itu opa di rumah sakit so dari tu Kumtua lama kong ganti baru," tandasnya.
Waktu dihubungi kakak beradik dari Albert, mereka menolak menerimanya. Bahkan adik perempuannya sempat mengungkapkan, dirinya pernah di pukul dengan batu di kepala. "Depe ada perempuan bilang, dia pe anak dua so gila biar jo kita urus, kase makan, mar dia (Albert) nyanda," pungkas Lalamentik.
"Bahkan torang waktu itu sempat kecewa ada dari pemerintah bilang, suntik kram jo pa dia," tambahnya.
Pada Jumat ini pihak Rumah Sakit telah kembali mencoba menghubungi pihak pemerintah Kecamatan Eris dan Desa Ranomeruut. Ini dimaksudkan untuk mencari solusi serta tanggung jawab pemerintah setempat. "Karna biar bagimana itu kan dorang pe masyarakat, kami sudah berusaha sampai menghubungi keluargnya. Walaupun sebenarnya itu bukan tugas kami," papar Lalamentik.(arfin tompodung)



































