Kisah Heroik Dibalik Maut Pantai Kawis


Tondano, MS

Lelaki paruh baya itu menatap nanar ke arah jasad perempuan belia yang terbaring kaku di dipan berhias ornamen merah muda. Matanya tampak merah, berkaca-kaca. Sesekali ia menggeleng sembari mengusap air mata yang meleleh. Menyadari putri sulungnya telah tiada teramat menyakitkan hati.

Novry Mentu (45) adalah satu dari sembilan ayah di Kelurahan Liningaan, Tondano Timur yang dilanda situasi yang sama. Peristiwa nahas di Pantai Kawis, Sabtu (25/5) siang pukul 15.00 WITA, merenggut kebahagiaan mereka. Alam merampas nyawa anak-anak mereka dalam sebuah insiden yang terjadi begitu cepat.

Namun sebagai ayah, kepergian Pingkan Mentu (17) bagi Novry menyisakan cerita yang sulit dituturkan. Cerita yang mempertegas keterbatasan manusia, dan kemahakuasaan Tuhan. Aksi heroiknya menyelamatkan lima anak remaja yang terseret arus sesaat setelah peristiwa, tak mampu menyelamatkan sang putri.     

Kepada Media Sulut tadi malam (Minggu 26/5), Novri mengungkap kronologi peristiwa memilukan itu. “Saat itu, (Sabtu siang pukul 15.00 WITA, red), saya sedang bercakap-cakap dengan teman di tepi pantai. Beberapa anak-anak memang pergi berenang. Suasana biasa saja waktu itu,” tutur Novry.

Tak dinyana, dua remaja tiba-tiba datang sambil berlari. “Mereka berteriak-teriak. Ada yang tenggelam,” tutur Novry, menirukan teriakan dua remaja itu. Mendengarnya, ia lantas bergegas menuju ke pantai untuk menolong para korban yang terseret arus. “Saat itu, para korban sudah terseret sekitar 50 meter dari bibir pantai. Yang terlihat tinggal tangan dan kepala,” timpalnya.

Tanpa pikir panjang, Novry menceburkan diri ke laut. Ia berenang menuju ke tempat para korban yang terapung-apung liar ke tengah laut. “Dalam upaya pertolongan tersebut saya berhasil menarik sekitar lima korban. Termasuk anak saya (Pingkan, red),” ungkap dia.

Tiga korban lain yang terapung lebih jauh dari korban lainnya tak lagi sanggup digapai. Novry terlanjur kelelahan. “Saya tidak sanggup lagi (berenang) lebih jauh. Tapi untung ada perahu nelayan yang kebetulan lewat. Saya langsung minta tolong kepada mereka (nelayan, red),” urainya. Para nelayan itu kemudian mengangkat tubuh ketiga korban itu.

Heroisme Novry tak berakhir manis bagi sang putri, Pingkan menghembuskan nafas terakhir saat hendak dievakuasi ke rumah sakit. Rasa sesal pun menggelayut di hatinya. Novry mengaku kerap membayangkan saat anaknya tenggelam dan memanggil-manggilnya. “Saya sedih membayangkan anak saya memanggil-manggil saya sebagai papanya untuk minta tolong. Karena dia tahu saya sedang menunggunya di tepi pantai,” tutur Novri sembari terisak-isak.

RESKY TEWAS SAAT COBA SELAMATKAN TEMAN

Satu cerita heroik lain dalam tragedi Pantai Kawi justru berakhir tragis. Adalah Resky Chandra (17), salah seorang remaja GMIM Sentrum yang coba menyelamatkan teman-temannya dalam peristiwa tersebut. Usaha penyelamatan gagal, Resky justru ikut terseret arus dan menemui ajal di pantai itu.

Ironinya, Rezky diketahui awalnya tidak ikut berenang di pantai bersama rekan-rekannya. “Dia kasiang cuma ada duduk-duduk di pinggir pante ada lia-lia depe tamang mandi. Mar waktu dia lia depe tamang-tamang so tenggelam, dia pigi tolong pa dorang, akhirnya dia malah jadi korban,” tutur Refny Walngitan (46), ibunda korban saat ditemui Media Sulut di rumah duka, Minggu (26/5) pagi.

Sang ibunda yang dibalut kesedihan luar biasa berutur, Resky memang berencana untuk tidak berenang bersama teman-temannya sejak awal. Ia berniat menjaga kondisi fisik jelang pertandingan catur tingkat Provinsi Sulut yang harus dia ikuti.

Peraih medali emas kejuaraan catur junior tingkat nasional itu memang berencana mengikuti turnamen catur terbuka tingkat provinsi Sulut yang akan digelar dalam waktu dekat ini. "Rezky sempat bilang, dalam waktu dekat ia akan mengikuti kejuaraan catur, buat tambahan biaya masuk perguruan tinggi," ungkap Refny. Sejurus kemudian, tangisnya memekak.

Selain sembilan orang yang dipastikan meninggal dunia, terdapat tiga korban selamat dalam insiden tersebut. Gabriella Waney (14) hingga kini masih mendapat perawatan instensif di RSU Bethesda Tomohon. Dua korban lainnya, Andre Tumengkol, dan Revlan Mentu masih mengalami trauma dan sedang dirawat di RSUD Sam Ratulangi Tondano.

PANTAI KAWIS YANG GANAS

Revlan Mentu, salah satu dari tiga korban yang selamat dari peristiwa tersebut, mengakui dia bersama rekan-rekannya terseret arus yang sangat kuat. Diwawancarai saat mendapat perawatan di Rumah Sakit Sam Ratulangi Tondano, Revlan menjelaskan dia dan teman-temannya berenang di kawasan pantai yang relatif dangkal.

“Torang nda nae perahu. Torang cuma da mandi (berenang, red) di tepi pantai. Depe aer cuma sampe di perut,” tutur Revlan dengan suara parau. Matanya berkaca-kaca. Ia tampak masih trauma dengan kejadian yang baru menimpa ia dan kawan-kawannya. “Da sementara mandi, kage-kage torang terhisap ke bawah. Arusnya kuat sekali. Sesudah itu kita so nda inga apa-apa,” timpalnya, sesengukan.

Kematian tragis sembilan teruna Minahasa itu sontak mengejutkan publik Sulawesi Utara. Hal mana menegaskan betapa bahayanya arus laut di kawasan pantai timur Minahasa, termasuk Pantai Kawi.

Yang lebih ironi, belum banyak yang mengetahui seluk beluk Pantai Kawi. Kawasan pantai yang terletak di perbatasan Kombi dan Lembean Timur itu memang relatif belum lama ini menjadi primadona wisatawan. “Baru beberapa tahun terakhir ini banyak dikunjungi. Sebelumnya, hanya masyarakat sekitar yang sering kemari,” tutur Sterry Montong, warga Kombi.

“Saya kaget dengan kejadian ini. Tapi pantai Kawi memang bukan tipe pantai yang ‘kondusif’ bagi para pengunjungnya. Ini memang pantai yang rentan dengan gelombang pasang,” tambahnya.

Titik pantai yang menjadi lokasi para korban berenang justru adalah area yang paling berbahaya. “Mereka berenang di dekat muara sungai Kawis. Di situ memang rawan. Apalagi kalau datang gelombang pasang dari arah laut ke pesisir pantai. Arus balik dari muara sungai ke laut akan sangat kuat. Kalau tidak mahir berenang pasti tidak akan mampu keluar dari arus itu,” timpalnya. (media sulut) 



Sponsors

Sponsors