"Ja Ba Tarek, Tampa da Sumpah Akang"
Menelisik Makna dan Kisah di Balik Pantai Kawis
Laporan: Rikson Karundeng
PANTAI Timur Minahasa yang eksotik, ternyata menyimpan banyak misteri. Sejak tempo dulu, daerah tersebut dikenal ‘angker’. Tidak sedikit korban jiwa yang ‘diambil’ pantai ini. Kisah pilu akibat terengutnya nyawa manusia di wilayah ini seolah menjadi ‘tragedi tahunan’. Akhir pekan lalu, Pantai Kawis, kembali jadi saksi meninggalnya 9 orang remaja asal Liningaan Tondano.
“Setahu kami, sejak zaman Jepang sekitar pantai Kawis itu dikenal angker. Selalu ada yang celaka di sana, hampir setiap tahun. Opa kami di Ranowango Tondano pantai banyak bercerita pada kami soal peristiwa tragis sejak masa lampau di daerah itu. Slalu ‘ja ba ambe’ kata. Taon 70-an ada polisi 7 polisi yang meninggal di sana. Taon lalu juga ada yang meninggal di sana,” tutur Adri Elean, warga Tondano Minggu (26/5) kemarin.
Budayawan Minahasa, Rinto Taroreh menjelaskan, Pantai Timur Minahasa dikenal rawan karena ‘tampa ja sesimpang akang’. “Sejarah mencatat, itu daerah perang luluhur kita dengan para bajak laut sejak dulu. Orang tua pe bilangan, itu tampa ‘ada tu ja sesimpang’. Depe pesisir kurang batu-batu besar tapi depe aros bawah kuat skali. Dapa lia tenang mar ja ba ambe. Pengalaman leluhur sejak dulu demikian,” ujarnya.
Terkait dengan ‘tragedi pantai Kawis’, menurut Taroreh ada sesuatu yang hendak diingatkan lagi kepada tou (orang) Minahasa. “Pesan leluhur, kita harus hati-hati dan jaga selalu alam kita. Tampa itu kan so jadi ‘tampa ba nakal’. Itu pelanggaran berat dan kita diperingatkan lagi. Secara kebetulan anak-anak remaja kita yang jadi korban kali ini. Bukan berarti mereka yang melakukan kesalahan. Angka sembilan bukan sembarang bagi orang Minahasa. Pesan kali ini kuat,” tandasnya.
Tempat-tempat tertentu di Minahasa terkait dengan pengalaman hidup masyarakat yang hendak diwariskan ke generasi berikut. Nama tempat menjadi pesan ‘pengetahuan’ itu. “Semua tempat di Minahasa punya cerita dan mereka belajar dari pengalaman. Pemberian nama biasa ada peringatan, agar kita tahu cara bersikap di tempat itu. Contoh nama Kawis,” terang budayawan Fredy Wowor.
Akademisi Unsrat ini menjelaskan, kata Kawis/Kawit menyimpan pesan agar kita berhati-hati. “Bahasa tua, Kawis atau Kawit artinya ‘ja ba gepe ato ja ba tarek’. Depe ‘dolong’, artinya ada sumpah akang jadi tidak boleh sembarang. Menyiratkan sesuatu yang mesti berhati-berhati,” ulas Wowor.
“Peristiwa akhir pekan lalu memberi pesan kepada kita, tampa ‘kapelian’ seperti Kawis harus ator bae-bae. Manusia yang ke sana harus tahu aturan. Tampa itu memang torang tau tampa baku dapa aros-aros tertentu. Bukan soal tofor. Ini fenomena alam,” tambahnya.
Pegiat Mawale Movement ini juga mengurai, makna budaya tempat apapun di Minahasa semua mengaitkan sesuatu dengan ingatan orang-orang yang lebih dulu telah mengetahui tempat itu. “Dari tinjauan budaya, apa arti cari tahu budaya ? Agar kita tahu segala hal, termasuk peran penting nilai-nilai budaya. Pesan bagi kita terkait dengan fenomena pariwisata, jangan seenaknya eksploitasi tempat pariwisata. Jangan sembarang mengacak-acaknya, perhatikan pesan-pesan leluhur yang bijaksana. Pemerintah juga harus perhatikan itu,” tandasnya.
Penjelasan Wowor dibenarkan Matulandi Supit, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulut. “Berarti ada sesuatu dengan kita Minahasa. Mungkin ada satu yang direncanakan dengan tempat itu yang tidak dikehendaki alam. Kita sekarang memang so lupa ja ‘minta permisi’ kalu mo melakuan sesuatu. Kita sudah tidak lakukan itu padahal peringatan alam sering menyiratkan betapa penting menghargai alam. Mari kita tangkap makna penting dari peristiwa kali ini,” pintanya.(***)
Foto: Pantai Kawi, Kombi, Minahasa, pesona alam yang menyimpan banyak misteri. (ist)



































