Soputan Mengamuk, Ratusan Pendaki 'Terjebak'
Warga Diminta Tak Mendekati Soputan
Amurang, ME
Soputan kembali mengamuk, Senin (4/1) malam. Gunung api di wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara itu melontarkan matrial vulkanik hingga 2.000 meter dari permukaan kubah lava. Erupsi susulan terjadi Selasa (5/1) pagi. Ratusan pendaki dikabarkan masih terjebak di seputaran gunung aktif itu.
Geliat Gunung Soputan sudah terpantau sejak Senin (4/1) pagi. Sekitar pukul 8.00 WITA, terlihat jelas asap mulai membesar, mengepul di puncak Soputan. Frans Mokorowu, warga Tombatu menuturkan, letusan yang disertai material vulkanik pecah pada Senin malam, sekitar pukul 20.30 WITA.
"Kira-kira jam 8.30 malam, Soputan mengeluarkan asap hitam yang diduga debu vulkanik. Abu vulkanik kemudian membentuk awan raksasa di atas kampung Tombatu," ungkap Mokorowu.
"Semburan api di puncak Soputan cukup besar hingga warna sekitar gunung pun memerah. Kelihatannya, jika arah angin tidak berubah, wilayah Langowan yang dihujani abu vulkanik," tambahnya, sembari menjelaskan jika letusan Selasa pagi tak kalah dahsyat. Sementara, debu vulkanik tetap terlihat mengarah ke wilayah Langowan dan Pangu Kecamatan Ratahan Timur.
Kepala Pos Pemantau Gunung Soputan, Sandy Manengkey memastikan, erupsi Soputan pertama terjadi pukul 20:53 WITA dengan mengeluarkan asap kelabu. Ketinggian matrial semburan sekitar 2.000 meter dan ditiup angin ke arah timur.
“Letusan pertama terjadi over skil atau amplitudo maksimal,” paparnya.
Manengkey pun menghimbau agar warga tidak mendekati radius 6,5 km dari Gunung Soputan. “Tidak diperbolehkan masyarakat melakukan aktivitas. Untuk itu kami menutup sementara aktivitas pendakian untuk seluruh jalur pendakian,” tandasnya.
Kabar mengejutkan diperoleh dari para pencinta alam dan warga sekitar Gunung Soputan. Ratusan pendaki masih berada di lokasi pendakian. “Sudah ada pendaki yang turun tapi masih ada ratusan yang bertahan di sekitar Gunung Soputan atau tepatnya shelter (tempat persinggahan) di pinus dua,” kata Nino Lolowang atau biasa disapa Om No, warga yang biasa beraktivitas di sekitar Gunung Soputan.
Penjelasan Lolowang dibenarkan Trevel Sero, salah satu pencinta alam. “Waktu meletus, ada dua ratus lebih di pinus dua tapi ada yang sudah turun. Di shelter hujan debu becek karena hujan,” terangnya. (tim me)



































