‘Rusak Hutan Hingga Cemari Sumber Mata Air’

Serangan Abu Vulkanik Gunung Soputan


Ratahan, ME

Erupsi Gunung Soputan telah menimbulkan beragam dampak buruk. Muntahan abu vulkanik dan sapuan awan panas, menenggelamkan ekosistem hutan dan habitatnya. Sejumlah daerah rawan air bersih, sebab diduga tercemar abu vulkanik.

Beberapa daerah yang terkena dampak letusan Gunung Soputan tahun 2016, dinilai kritis. Buntut erupsi salah satu gunung teraktif di dunia ini, ekosistem hutan lindung di sekitar kawah Soputan dan daerah daerah sekitar, porak poranda. Awan panas ditambah guguran abu vulkanik, berimbas pada mengeringnya ribuan jenis ‘penghuni’ hutan. Kelestarian alam di wilayah Minahasa Tenggara (Mitra) dan sekitarnya, kembali terganggu.

Sesuai pantauan, hujan abu vulkanik memang tak hanya berimbas pada lahan pertanian saja. Setiap kali erupsi, ribuan pohon hangus dan mati oleh debu vulkanik. Pun bibit-bibit pohon yang ditanam melalui program reboisasi hutan lindung dipastikan mati akibat tingginya intensitas erupsi.

“Ini memang gejala alam yang tak bisa kita halau. Olehnya program penghijauan harus terus digalakkan pemerintah untuk mengatasi persoalan ini. Kalau tidak kelestarian hutan kita akan terancam,” seru Ketua KPA Silian Raya, Frangki Matu.

Sementara itu, Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Mitra, Soni Wenas mengungkapkan, kajian tim di lokasi memang potensi kerusakan hutan akibat erupsi Gunung Soputan sangat tinggi. “Wilayah-wilayah yang parah yaitu di hutan di kawasan Silian dan hutan lindung Kalatin Pangu. Lokasi ini yang diterjang hujan abu vulkanik. Otomatis pasti akan berdampak pada kerusakan pohon yang jenisnya tak tahan terhadap abu gunung,” papar Wenas.

Namun, kata dia, intensitas curah hujan yang tinggi dapat membantu kelangsungan hidup pohon-pohon yang terkena abu vulkanik. Bahkan, air hujan akan dengan cepat mengubah material vulkanik menjadi semacam pupuk yang meningkatkan kesuburan tanah.“Makanya kita berharap curah hujan terus terjadi sehingga dapat meminimalisir kerusakan hutan akibat erupsi gunung berapi ini,” sebutnya.

Ditanya soal program peremajaan hutan, Wenas mengatakan jika hal itu memang menjadi program rutin pemerintah.“Kita melakukan reboisasi bukan hanya karena ada letusan gunung. Itu memang jadi prioritas pemerintah setiap tahun. Namun tentu ada mekanismenya. Kita harus membuat proposal usulan ke pihak kementerian dan jika disetujui secepatnya akan kita tindaklanjuti,” terangnya.

Dampak buruk erupsi Soputan, juga melanda kawasan Pegunungan Manimporok. Zona hijau yang diklaim sebagai ‘lumbung air’ ini diterjang keganasan Soputan. Kekhawatiran warga menyembul, sebab Manimporok menjadi salah satu sumber utama mata air bagi masyarakat di wilayah Kota Langowan dan sebagian Kecamatan Kakas.

Untuk diketahui, beberapa tahun terakhir ini, intensitas letusan Gunung Soputan terus meninggi. Tercatat ada tiga kali letusan dahsyat yang terjadi sejak 2011 lalu. Jumlah itu pun belum termasuk erupsi-erupsi kecil yang terjadi selang beberapa tahun terakhir ini.(tim me)



Sponsors

Sponsors